Drawing You in Cordoba
Minggu, 24 Maret 2019
by lele
Please Help Me
Short story of Drawing You in Cordoba
Lagu pendukung : Falling Night - Nuit Ocean (Ada di playlist Soundcloud)
Dingin. Dan juga gelap. Angin berhembus lembut. Menggelitik kaki dan tanganku. Udara dingin terus membelaiku. Seolah aku terjatuh dalam kubangan mimpi buruk. Aku juga mendengar suara. Serta guncangan. Tapi yang kulihat hanyalah kelabu dan gelap. Kepalaku pusing sekali. Rasanya seolah aku baru saja turun dari komidi putar setelah tunggangan ke seribu kali. Aku juga tak mampu merasakan jemariku. Kaku. Semua anggota tubuhku mati rasa.
“… Girl!”
Aku terus menerus mendengar suara itu. Seolah memanggilku, tapi bukan namaku. Tubuhku pun terus berguncang. Membuatku akhirnya dapat merasakan jemariku sedikit.
“Girl…!!!”
Panggilan yang kesekian kalinya itu akhirnya membuat mataku terbuka. Dengan spontan. Aku melihat sepasang kaki dengan celana berwarna hitam. Dan di belakangnya tampak sebuah bangunan bata. Namun aku masih tak mengerti. Aku masih mencerna semuanya. Ada di mana aku?
“Hey, you allright kid?”
Aku mendongakkan kepalaku. Tadinya hanya sepasang kaki saja yang ada di depan pandanganku. Namun kini datang seorang pria dan wanita. Pria itu berambut pirang dan satunya lagi wanita Afrika. Mereka semua memakai pakaian tebal. Sepasang kaki yang tadi berdiri di depanku juga mengenakan pakaian tebal. Matanya berwarna biru dan rambutnya berwarna merah. Mengingatkanku pada karakter Archie di serial Riverdale. Dan bangunan bata yang kumaksud tadi ternyata adalah sebuah rumah bata dengan banyak lampu warna-warni. Aku melihat kakiku, yang terasa membeku. Dan aku baru menyadari bahwa aku tadi tertidur di atas sebuah bangku jalanan.
Tunggu, kenapa mendadak aku melihat orang-orang berambut seperti mereka? Dan kenapa udara terasa dingin sekali? Aku berkali-kali menghembuskan nafas dan ada uap yang bisa kulihat dengan jelas keluar dari dalam hidungku. Sama seperti orang-orang yang ada di depanku ini. Udara yang mereka hirup bisa kulihat jelas saat mereka hembuskan. Tunggu, tunggu. Itu bukan rumah bata. I, itu apa? Tampak seperti pertokoan, dan bukannya rumah. Sebenarnya aku di mana?
“Ini di mana ya?” tanyaku pada mereka. Dan bukannya menjawab, mereka justru saling pandang. Mereka tampak kebingungan. Apalagi diriku yang tak tahu apa yang baru saja terjadi ini.
“I’m sorry I don’t know what did you mean. Can you speak English?”
Aku mengernyitkan alis, sembari memandang sekeliling. Kenapa di sini banyak sekali bule? Aku tak melihat wajah-wajah oriental sama sekali. Atau wajah-wajah Asia sepertiku. Bahkan, aku tak melihat pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan. Mobil-mobil yang kulihatpun sangat berbeda sekali daripada yang kulihat biasanya. Sungguh, ini di mana?!
“Y, yes. Can you tell me where is it?” Spontan wajah mereka tampak berseri. Mungkin bahagia karena aku akhirnya bicara Bahasa Inggris.
“El Corte Ingles. You’re in front of it.”
“E, el, what?” Jawabku.
“El Corte Ingles. Av. Ronda de los Tejares.”
Ini gila. Mereka bicara apa? Aku seperti berbicara dengan alien. Aku sungguh tidak mengerti di mana yang mereka katakan itu tadi.
“I, is it in Indonesia?” Tanyaku dengan terbata-bata.
“Ha ha ha, you are drunk. Welcome to the Spain, kid. Okay, we’ve to go. Take care, kid!”
Ketiga orang itu pergi. Banyak orang berlalu lalang di depanku. Memakai pakaian tebal. Aku baru paham setelah udara dingin ini makin menggila. Semua orang yang lewat di depanku mengenakan pakaian tebal. Jaket, syal, beanie, dan sarung tangan. Aku melihat badanku. Aku masih mengenakan pakaian yang terakhir kukenakan, seingatku. Aku mengenakan celana jeans super pendek dan striped t-shirt dengan jaket jeans yang biasa kupakai. Aku hanya memakai sepatu Converse dan kaus kaki panjang. Untungnya jaket yang kupakai cukup tebal.
Aku masih mencerna apa yang sedang terjadi. Mencoba mengingat apa yang terakhir kali kulakukan. Mengapa aku bisa ada di sini. Aku berkali-kali memandang sekeliling. Penuh lampu, dan ramai sekali. Saat aku mencoba untuk berdiri, perutku tiba-tiba terasa perih. Aku menyetuh bagian yang kurasa adalah sumber sakit itu.
“Aw!”
Gila, kenapa bisa sakit sekali? Dan aku baru menyadari saat kulihat kausku sedikit terpercik darah. Wow, wow, apakah aku sedang menstruasi? Aku rasa tidak. Darah menstruasi tidak mungkin sampai atas sini. Aku seperti merasa kulit perutku terluka. Dan saat aku mengintip perutku yang imut ini, aku mendapati perutku terluka. Luka sayat. Berdarah, tapi sudah sedikit kering. Dan darah yang menempel di kausku juga sudah mulai cokelat. Oke, serius, apa yang telah terjadi padaku?! Aku rasa ini sudah terjadi cukup lama, melihat darah yang menempel di kausku sudah mulai berubah cokelat.
Tak lama, seorang wanita duduk di sebelahku. Ia mengenakan mantel berwarna cokelat dan menggendong bayi. Ia sedang berbicara melalui telepon. Dan yang kudengar adalah bahasa seperti yang kudengar di film Coco. Seperti Bahasa Meksiko yang mirip dengan Bahasa Spanyol. Wanita itu kemudian menutup teleponnya.
“Excuse me, Ma’am. Could you tell me what time is it?” Aku bertanya padanya. Aku baru saja menyadari bahwa ponselku hilang, dan aku tidak memakai jam tangan. Aku benar-benar buta waktu.
“Oh, sure! Wait a minute…” Jawabnya dengan logat khas Spanyol. Ia merogoh saku mantelnya.
Sembari menunggunya, aku melihat ke arah perempatan di depan bangunan pertokoan yang besar ini. Aku melihat seorang pria botak berpakaian serba hitam. Banyak tindik di wajahnya. Dan spontan aku merasa aku ingat dengan wajah pria preman itu. Sekilas, seperti ada memori-memori yang terputar di benakku. Aku terkejut dan melongo. Dan sialnya, pria botak itu juga ada di dalam kilasan memoriku. Lebih sialnya lagi, kini ia melihatku. Wajahnya langsung berubah garang dan mendadak ia berjalan cepat menujuku.
“It’s 8:57 p.m., almost 9 p.m.. Oh, where are you going?! Señorita!”
Wanita itu menjawab pertanyaanku. Aku beranjak dan langsung berusaha berlari menghindari pria botak itu. Aku sangat yakin ada sesuatu yang buruk dengan pria itu. Dan benar saja, saat aku mencoba kabur, dia mengejarku!
“Okay, Ma’am! Thank you so much! I owe you, Ma’am!”
Teriakku pada wanita itu setelah berlari beberapa langkah. Wanita itu hanya mengangguk dengan bingung dan melambaikan tangan. Aku berkali-kali menengok ke belakang. Pria itu terus mengikutiku. Dia tidak berlari sepertiku. Ia berjalan cepat. Tenang, dan tidak gesrek seperti preman pada umumnya. Aku telah berusaha berlari namun sulit sekali. Kepalaku sangat sakit. Seperti ada satu warga kampung yang memukuli kepalaku. Yah, walaupun aku tidak pernah dipukuli. Tapi kepalaku sangat sakit.
Aku berhenti di tempat penyeberangan. Banyak sekali orang berlalu-lalang. Waktu penyeberangan tinggal 35 detik. Pikiranku kacau. Bingung, takut, dan juga ingin menangis. Pria botak itu masih berjalan cepat menujuku. Aku menarik nafas panjang, kemudian melangkah dan bergabung bersama pejalan kaki yang menyeberang. Dewi Fortuna sedang berpihak padaku. Aku menyembunyikan diriku yang mungil di antara para pejalan kaki. Di tengah-tengah keramaian, aku melepas jaketku secepat mungkin. Beberapa pejalan kaki memandangiku, mungkin terheran dengan pakaianku yang cukup minim saat ini. Udara sedang dingin, mungkin begitulah pikir mereka. Setelah kulepas jaketku, kubalik dengan super cepat dan kupakai lagi. Ya, jaketku ini semacam duo. Satu berwarna light blue dan yang satu berwarna hitam.
Setelah sampai pada seberang jalan, aku langsung berjalan cepat menuju sebuah toko. Aku bersembunyi di balik pilar toko itu. Sebentar-sebentar, aku mengintip ke belakang. Jantungku berdebar tak karuan. Aku hamper menangis. Antara takut, dan tak tahu apa-apa. Aku berharap ada petunjuk yang dapat membantuku.
Aku mengintip ke belakang untuk ke empat kalinya. Dan aku terkejut setengah mati. Pria botak itu ada tepat di sebelah pilar tempat persembunyianku. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan. Dengan jantung yang hampir meledak, spontan aku bersembunyi di sisi pilar yang lain. Tubuhku tak bisa bergerak banyak. Selain karena kepalaku yang makin pusing, aku sangat shock.Walau pria botak itu mungkin tidak mengejarku, tapi aku punya perasaan yang kuat bahwa ia sedang mengejarku. Aku memiliki firasat buruk. Pria botak itu tampak seperti anggota mafia luar negeri. Aku tidak bercanda! Ada tato di leher belakangnya. Aku tak yakin gambar apa itu. Yang kulihat hanyalah sebuah tato stencil pada umumnya, namun sangat jarang digunakan. Aku tahu banyak mengenai tato karena aku pernah tinggal bersama seorang teman yang membuka jasa tato. Dan aku tinggal cukup lama dengannya.
Setelah kuperiksa lagi, pria itu sudah pergi. Ia berjalan menjauh. Setelah kuyakin ia telah berjalan cukup jauh, aku pun keluar dari pilar toko itu. Aku berlari menuju arah yang berlawanan dengan si pria botak.
“Thanks pillar, I owe ya. Adios.” Aku melambai pada pilar itu. Walau hanya pilar, ia telah menyelamatkanku. Tak ada salahnya aku berterima kasih pada pilar toko itu. Ha ha.
5 menit, 10 menit, aku berjalan tanpa tujuan. Aku berkali-kali menghela nafas kasar. Tak ada ponsel, dompet, ataupun tanda pengenal. Apakah aku benar-benar akan jadi gelandangan? Mengais sampah di sebuah gang di antara toko-toko ini? Aku sangat takut!
Aku berhenti melangkah. Lampu-lampu jalanan begitu terang dan penuh warna. Aku rasa ini adalah musim gugur. Beberapa pohon tampak kurus kering dengan tiadanya daun-daun di ranting mereka. Dan beberapa pohon lainnya sudah beruban, yang tak lain adalah sudah menguning daun-daunnya. Udara terasa dingin. Dan lampu-lampu penuh warna itu tampaknya disiapkan lebih awal untuk menyambut Desember yang tak lain adalah Hari Natal. Berkali-kali aku menggosok-gosokkan tanganku yang mulai membeku. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Setelah berpikir cukup lama, aku memutuskan untuk tetap jalan. Jalan sampai pagi hari tiba, mungkin? Aku tak mau bergabung dengan gelandangan. Karena aku tak tahu bagaimana gelandangan di negeri ini, dibandingkan orang-orang jalanan yang ada di tanah airku.
BUAK!!!
Tak kusangka, tiba-tiba aku ditarik ke sebuah gang yang gelap, kemudian dipukul. Aku jatuh terduduk dan tulang ekorku membentur aspal. Sakit sekali. Aku tak bisa melihat siapa yang memukulku, sebab gang ini gelap sekali. Hanya ada satu lampu kuning jalanan yang menerangi sudut gang. Tapi aku yakin orang yang memukul dan menyeretku itu adalah seorang pria. Jantungku berdebar sangat kencang. Sembari berkali-kali menyebut nama Tuhan untuk memohon perlindungannya, aku merangkak mundur. Namun aku tak bisa kemana-mana, tak ada celah untuk kabur. Tanpa kusadari, air mataku keluar.
Gang ini gelap sekali. Para pejalan kaki terasa jauh sekali untuk diminta tolong. Sepi, dan juga gelap. Lembab. Pun kotor. Pipiku terasa nyeri setelah pukulan orang itu menghantam wajahku. Bibirku terluka, dan berdarah.
“Please…”
Aku memohon. Orang yang memukulku itu maju selangkah ke arahku. Ia sedang memegang tangan kanannya yang terkena percikan darahku. Dan voila, cahaya menerangi wajahnya, dan um, kepalanya juga. Ia adalah si pria botak tadi yang mengerjarku. Sekarang pria itu tampak sangat mengerikan setelah memukulku. Sungguh, aku tak tahu apa-apa. Kenapa aku harus mengalami ini semua?
“You begging me now? Hijo de puta! (bajingan!)” Katanya dengan mencampur Bahasa Spanyol. Ia menendang tepat di perutku yang terdapat luka sayat yang kulihat tadi. Tuhan, mengapa aku harus mengalami ini semua? Sakit, sakit sekali. Aku terbatuk dan memandang pria botak itu. Aku belum pernah bertemu dengan orang sejahat pria ini.
“You know what? I don’t see you as a woman now. You’re fucking…”
“Hey, hey…” Sembari terbatuk, aku memanggilnya. Aku mencoba bangkit sembari memegangi perutku yang untungnya tidak berdarah. Aku melanjutkan,
“Zip it. Zip yours, man.” Aku menunjuk resleting celana jeans hitam yang ia kenakan. Ia langsung menunduk dan memegang, oh sial. Spontan aku berdiri dan menendang dengan jurus tendangan paling mematikan yang pernah kupelajari. Dan boom! Aku menendang keras dagu pria botak itu ketika ia sedang menunduk dan memegang, ya, kau tau maksudku.
Pria botak itu tumbang dan ambruk di atas aspal yang dingin ini. Mulutnya menganga setelah menerima tendangan 180 derajat yang kuberikan barusan. Aku bahkan tak percaya bahwa ia akan pingsan seperti ini setelah menerima tendanganku itu. Dagunya sedikit memerah.
Aku mengamati pria botak itu. Ada sebuah dompet terjatuh dari mantel hitam yang ia kenakan. Tampaknya itu adalah dompetnya. Aku pun meraih dompetnya dengan cepat. Aku mendapati beberapa kartu identitas milikinya. Namun tak menemukan kartu tanda penduduk miliknya. Aku hanya menemukan kartu izin mengemudi dan kartu keanggotaan yang tidak penting. Gotcha. Akan kuingat nama pria botak itu, Felipe. Felipe Giacobee. Kemudian aku merogoh sisi yang lain dari dompet si Felipe ini. Ada 20 euro. Aku mengambil 5 euro tanpa pikir panjang.
“Kumaafkan kau dengan 5 euro ini. Bagaimanapun aku harus bertahan hidup. Jika kau masih mengejarku, kita harus bertarung sungguhan. Terima kasih Mr. Felipe The Bald.” Kataku pada Felipe botak yang masih saja pingsan itu.
Aku melempar dompetnya dan berlari menuju keramaian. Sembari memandangi 5 euro yang kuminta dari si botak tadi, aku berpikir apakah aku bisa membeli makanan dengan 5 euro ini? Perutku sangat lapar. Semakin lama badanku semakin ringkih. Ada luka di sekujur tubuhku. Pipiku memar. Dan bibirku sedikit sobek. Semakin dipikir, semakin aku lapar. Aku juga mencium bau beragam makanan yang membuat perutku makin melilit. Sembari memegangi perutku, aku memasuki sebuah minimarket.
Setelah berkeliling selama beberapa menit, aku mengambil Snickers isi 4 dan sebotol air mineral untuk mengganjal isi perut. Totalnya 4 euro dan kini aku hanya memiliki 1 euro saja. Seorang kasir yang sedang melayaniku ini memandangiku. Mungkin pikirnya aku ini terlihat sangat gelandangan dengan luka di wajahku. Setelah membayar, aku keluar lalu duduk dengan lemas di bangku yang disediakan di depan minimarket. Aku menghela nafas, kemudian membuka bungkus makanan. Aku memiliki 4 Snickers dan sisanya harus kusimpan di saat aku benar-benar lapar nanti. Aku yakin 1 Snickers dapat mengganjal perutku yang menangis ini.
Sembari makan, aku mencoba menggeledah isi otakku. Mencoba mengingat segalanya. Asal kau tahu, tak hanya lupa mengenai apa yang terjadi padaku, aku juga lupa mengapa aku bisa di sini. Aku lupa semuanya. Dan semakin kucoba untuk mengingat semuanya, kepalaku semakin sakit. Berdengung. Seperti ada lebah dan sarangnya di dalam kepalaku. Aku masih mengingat namaku, Isha. Tapi anehnya aku lupa dengan nama belakangku. Kenapa? Sebenarnya aku ini kenapa?
Aku memandang sekeliling. Jalanan masih saja ramai. Sudah setengah jam berlalu, setelah kulihat jam yang ada di dalam minimarket tadi. Namun anehnya, walaupun aku tak tahu apa yang sedang terjadi pada diriku, aku menikmati suasana di sini. Lampu penuh warna, jalanan yang ramai, dan langit malam yang indah. Walau udara dingin berkali-kali membekukan ujung jemariku, aku tetap menikmatinya. Dan walau ada seorang pria gila yang entah mengapa mengejarku, aku tetap menikmati pula suasana di sini. Tunggu.
Mengapa si pria botak itu mengejarku? Mengapa ia memukulku? Dan mengapa ia muncul di kilasan memoriku ketika aku terbangun dari tidur saat di dekat El Corte Ingles tadi? Aku membuang bungkus makananku ke sampah, kemudian berdiri. Sembari mencoba mencerna semuanya.
“Tampaknya aku harus menjauh sejauh mungkin dari Felipe botak itu…” Gumamku. Aku melihat beberapa taksi yang berlalu-lalang di jalanan yang ada di depanku. Apa aku kabur dengan taksi saja ya? Pikirku. Tapi aku hanya punya 1 euro tersisa. Setelah kupikir-pikir, akhirnya kuputuskan untuk naik taksi. Aku memutuskan untuk pergi ke kantor pemerintah terdekat dan menunggu sampai pagi.
Setelah lama mencari taksi, akhirnya aku mendapatkannya. Dengan sigap aku masuk ke dalam mobil. Aku melihat seorang sopir muda di dalamnya. Tampak seperti seumuranku, namun lebih tua. Wajahnya jutek, dan cara bicaranya kasar.
“To the nearest government office.” Kataku pelan. Sopir taksi itu memandangiku melalui spion tengah mobil. Ia tak menjawab dan langsung menancap gas mobil.
Hening. Hanya ada suara deru mobil dan suara lagu hip hop dari radio taksi. Samar-samar terdengar suara klakson dari luar mobil. Aku melihat meteran yang ada di dekat radio. Mobil ini telah berjalan 2 km. Bagaimanapun juga, aku cukup gugup. Aku tidak punya uang tapi aku menaiki taksi ini. Beberapa kali, sopir bermata hazel itu melirik ke arahku melalui spion tengah mobil.
“Usted tiene dinero, ¿no? (Kamu punya uang, kan?)” Sopir taksi itu buka bicara.
“I, I’m sorry. I can’t speak Spanish.” Jawabku sedikit terbata. Aku meremas jaketku. Berharap sopir taksi itu memberiku belas kasih.
“You have money, right?” Deg. Aku terbata lagi.
“I, I’m so sorry. I’m lost and I only have a euro. I, I wish you could…” Belum menyelesaikan jawabanku, sopir itu mendadak mengerem mobil dan memarkir mobilnya dengan kasar. Ia mematikan mobilnya dan keluar. Sopir itu membanting pintu dengan kasar. Ya ampun, apa aku akan dibunuh sekarang? Apa yang harus kulakukan?
Sopir itu membuka pintu penumpang, kemudian menarikku dengan kasar. Ia mencengkeram kerah jaketku dan menarik dengan paksa menuju sebuah gang yang gelap. Lagi-lagi sebuah gang yang gelap. Kali ini aku benar-benar ketakutan. Badanku sudah sangat ringkih. Aku tak kuat lagi untuk membela diri dan mengeluarkan jurus seperti yang keberikan pada si botak tadi.
Dan sialnya, aku diberhentikan di sebuah jalanan yang lebih sepi dari tempat terakhirku tadi. Walaupun ada beberapa orang yang berjalan ke sana dan ke sini, tetap saja tempat ini lebih sepi. Dan gang ini lebih gelap dibandingkan yang tadi.
“I’m so sorry! I wish you could help…”
BAK!!!
Ya Tuhan, lagi-lagi aku ditendang. Setelah ia mendorongku sampai jatuh tadi, kini ia menendangku 2 kali. Tepat di perut. Aku terbatuk-batuk dan memegang perutku yang kini terasa sangat sakit sekali. Kini kepalaku juga semakin sakit. Bahkan pendengaranku menjadi semakin hilang karena rasa sakit di dalam kepalaku ini. Aku menyentuh perutku. Basah. Kaus yang kukenakan basah. Aku menunduk dan melihat kausku sedikit berlumur darah. Lukaku semakin parah.
Sopir itu berjongkok, hingga ia menatap tajam mataku. Lalu ia memegang pundakku. Lebih tepatnya, meremas pundakku.
“If you you have no money, don’t you dare to get into my taxi.I got su much fucking bad things, and you’re the fucking last.” Kasar. Kasar sekali. Aku bertanya-tanya pada diriku, mengapa hari ini aku bertemu dengan banyak sekali orang seperti mereka? Apa salahku? Skenario apa yang sedang Tuhan mainkan pada diriku ini?
Sopir kasar itu berdiri dan meninggalkanku yang meringkuk kesakitan ini. Aku yang tak mampu untuk berdiri ini hanya bisa mendengar deru mobil yang serak milik sopir taksi itu pergi. Kepalaku sakit, sangat sakit. Sakit sekali. Aku merasakan sakit di sekujur tubuhku. Namun kepala ini rasanya ingin meledak. Dan aku hanya mampu merasakannya. Perlahan suara-suara yang kudengar menjadi samar. Samar, lebih samar lagi, dan hilang. Pandanganku buram. Kelabu, makin kelabu. Dan akhirnya aku hanya mampu melihat hitam dan merasakan udara dingin yang menusuk. Aku, aku tak tahu.
***
Aku membuka mataku. Mengerjap. Lalu mendongak. Udara dingin berhembus lembut. Aku berusaha untuk bangkit. Menahan beban tubuhku dengan tangan kananku untuk bangun. Aku mengerjap sekali lagi. Mencoba mengingat semuanya sekali lagi. Ah. Benar. Aku baru saja melewati sesuatu yang sangat sulit.
Aku memegang tiang lampu yang ada di sebelahku, kemudian mencoba untuk berdiri. Aku berjalan menuju pinggir jalan. Jalanan sudah mulai sepi. Tidak seramai seperti yang kulihat terakhir kali tadi. Aku terbatuk. Menahan rasa sakit. Aku pun bersandar pada tembok sebuah kafe yang tampak masih sibuk dengan pelanggan-pelanggannya.
Dari luar, aku melihat berbagai macam kue dan minuman yang dipajang di etalase kafe. Sungguh lezat. Bau sedapnya pun tercium sampai keluar kafe. Aku duduk berjongkok di depan pilar kafe. Sembari memandangi pelanggan-pelanggan yang ada di dalamnya. Memikirkan sungguh beruntung mereka karena memiliki tujuan.
*
“Sir, wait!” Aku memanggil pelanggan yang baru keluar dari kafe itu. Ia membalikkan badannya.
“I, I’m wondering if you could help m…” Lanjutku dengan memelas.
“I got no time, adios.”
“Sir, wait! I know what do you need!” Pelanggan itu kembali membalikkan badannya setelah melangkah beberapa kali.
“What do you mean and what do you know?” Katanya dingin. Ia mengernyitkan alisnya. Kini pandangan pria itu menjadi tajam. Matanya yang biru berpendar dalam kegelapan. Kemudian ia kembali pergi.
“Sir, wait. Please, help me. I’m scared. I’m really sacred. Please!” Tanpa pikir panjang, seolah otakku tak berjalan sama sekali, aku meraih tangan pria itu dan memeganginya. Dan secara tak sadar aku menangis sesenggukan. Rasanya, seperti seluruh perasaanku tumpah di saat ini juga. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Orang ini adalah satu-satunya harapanku.
“Please… I’m scared of getting lost. I’m scared of this dark, please. Please help me…! I can help you, I swear. I know what do you need. Please, I’m so scared to be here…” Ucapku dengan sesenggukan.
“And what do you know?” Kata orang itu setelah beberapa menit.
“I saw what you are working on! I know what you need and I can help you. I saw everything inside of your computer from the café!” Jawabku sembari mengusap air mata yang masih saja mengalir seperti air terjun.
“You’re lying.” Orang itu melepas cengkeramanku dan pergi.
“I can be your designer! I’m a designer and I can help you! Please!” Teriakku. Kini para pejalan kaki yang lain mulai memandangiku dan pria bermata biru itu. Aku sempat mendengar mereka bergumam. Para pejalan kaki yang memandangi drama kami ini sukses membuat pria itu kembali berbalik padaku.
“Hombre sin corazón… (heartless man…)”
“What a cruel man…”
Pria bermata biru itu memandangi para pejalan kaki yang memandanginya dengan sinis. Kemudian ia berjalan dengan gusar menujuku yang masih saja sesenggukan.
“Okay, okay. But don’t cry! Eeveryone is watching! Sssh, ssh!” Aku mengusap air mataku. Ia berkali-kali menghela nafas kasar dan mengacak rambutnya.
“Okay, what do you want? Money?” Ucapnya dengan perasaan yang masih gusar.
“Yes, and no. But I can help what you’re working on.” Aku gila. Aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan.
“Are you running away?” Tanyanya lagi.
“I don’t know… I think I lost my memory…” Tunggu. Barusan apa yang kukatakan? Seolah otak dan kemauanku tak sejalan, rasanya mulutku seperti bicara semaunya.
Tags
story



