Kata Jokowi : Kerja Kerja Kerja
Ada segelas kopi yang bijinya dididik para petani kontemporer untuk melayani lidah manusia-manusia setengah Chiroptera supaya pahitnya menusuk hingga ke sum-sum tulang. Dibuai untuk memanjakan mata merah retak ala Kintsugi milik manusia-manusia yang wajahnya bersinar karena bluelight layar sRGB 100% tanpa melirik.
“DUA PULUH EMPAT JAM ITU KURANG!”
kata mereka yang serakah sudah kerja 9 jam lebih.
Wong pajak yang dibayarnya saja juga jelas-jelas untuk mengayomi buncitnya elit publik. Kultur pengeluaran untuk kopi yang kini sudah terpisah secara mandiri dari kategori sandang dan pangan, akan sangat membantu mereka marathon tanpa garis finish pada aktifitas dengan kedok wanita independen atau pria mapan, padahal slip gaji hanya permisi lewat untuk ditukar struk belanja di Indomaret dan tagihan e-commerce.