Kota Di Atas Karang Gula
Selasa, 28 April 2026
by lele
![]() |
| Kota Di Atas Karang Gula - Dansa sedang berlangsung |
“Aduh, sudah lapar duluan.” Kata bapak kostum tomcat ketiga dengan lengan dan leher dempal lalu mengambil batu warna-warni di bawah sepatunya untuk dikunyah. Bapak kostum tomcat kedua di sampingnya menggeleng,
“Apaloh kita tanpa semua ini!” Katanya manggut-manggut lele.
Sedikit melirik kanan tajam, ada bocah perempuan yang sama kerdilnya dengan si kerdil. Ia merengut lalu mendengus,
“Sudah lewat 40 menit. Tiap hari ingkar janji!” Laki-laki seberat tujuh manusia dewasa di sebelahnya langsung masam muka dan bersungut.
“Masih untung kita dapat keping manis! Acara ini juga begitu meriah, masih kurang bersyukur apalagi dirimu!” Lelaki berlemak penuh itu bertepuk tangan karena tampilan pertama 1001 Dansa baru saja usai.
Karena terpana oleh gerutu si perempuan kerdil dan lelaki berlemak itu, ditambah tepuk tangan meriah penonton 1001 Dansa yang riuh, si kerdil jadi hilang fokus dan kendali kursi roda si kakek karena tersandung batu besar nan merah kemilau. Si kerdil hilang keseimbangan lalu terperosok. Jalanan geronjal batu warna-warni yang becek itu tiba-tiba saja amblas setelah bokong si kerdil berdebum gedebuk dengan jalanan. Si kerdil terkejut ngeri melihat jalanan di dekatnya amblas begitu dalam, menunjuknya sembari berteriak,
“Lihat! Tiba-tiba saja runtuh! Pondasi kota ini sudah rapuh dan goyah!” Teriaknya. Lantas saja gerombolan bapak tomcat tadi mengepungnya.
“Berhenti menghujat keajaiban kota ini, dasar kerdil!” Balas teriak bapak kostum tomcat keempat pada si kerdil. “Retakan dan amblasnya jalan ini adalah cara alam menguji iman kita. Memang siapa kau berani meragukan keindahan kota dan alam yang diberikan pemimpin kita?”
Si kerdil tertegun. Ia baru menyadari bahwa jalanan yang dibangun oleh pemimpin kotanya dibangunhanya dari kembang gula tipis yang mulai terkikis karena air. Dan semuanya perlahan hancur. Ia memutuskan diam karena khawatir kerumunan bapak tomcat itu akan membawanya pada kemah konsentrasi lalu memisahkan dirinya dari si kakek yang sedikit lagi habis usia karena candu keping gula yang mengikis daging demi dagingnya.
Hari itu si kerdil putuskan tak makan keping manis yang dibagikan di alun-alun kota lagi, dan sudah beberapa bulan ini ia hanya makan hijau sayur yang ditanamnya sendiri karena pasar kota sudah jarang menjualnya. Sorenya setelah mengatar si kakek tidur, dalam kamarnya yang remang ia menulis sebuah pesan-pesan tersirat dalam sebuah dongeng yang dikarangnya. Di akhir dongeng karangannya, si kerdil menulis:
‘Kita semua sedang tengggelam, dan 1001 Dansa atau keping manis itu adalah airnya.’
Tags
story
