Menjadi Tidak Reaktif: Menghadapi Perbedaan Keyakinan (Terutama Saat Berkesenian)

Rabu, 29 April 2026 by lele

Kita seringkali main hakim-hakiman tanpa sadar. Atau bahkan menjadi Tuhan, mencatat ini salah atau itu benar, itu dosa atau dapat pahala. Aku suka koplo, kamu suka rock. Bagiku koplo adalah seni musik yang sangat melokal nan indah ritmenya, bagimu rock adalah musik organik paling keren yang berdaya sangat kuat. Aku pilih telur duluan, kamu pilih ayam duluan. Bagiku tanpa telur, tidak akan ada ayam. Bagimu tanpa ayam, tidak akan muncul telur. Aku pilih berdoa pada alam, kamu pilih berdoa pada tak siapapun. Bagiku doa pada alam adalah sebuah cara manusia hidup berdampingan dengan menghargai dan merawat satu sama lain, bagimu kamu percaya pada usaha dan ikhtiar diri tanpa bergantung subjek atau objek manapun. Aku berkeyakinan manusia itu hanya bisa berpasangan secara heterogen, kamu berkeyakinan manusia bisa berpasangan dengan homogen. Bagiku konsep hubungan manusia homogen itu salah secara syariat agama manapun. Bagimu konsep hubungan manusia homogen itu bisa diuraikan dari sisi sains.


––


Belajar seni bukan hanya mengajarkanku teknik menggambar atau mematung. Juga tidak hanya soal belajar bagaimana cara menyelenggarakan pameran dengan bijak. Namun hal paling basic dengan dampak luar biasa yang nyatanya sering dilewatkan: kesadaran akan sekitar, atau trendinya adalah Art of Noticing. Dunia seni mengajarkan diriku mengamati objek maupun subjek dari berbagai sudut pandang. Baik dari bentuk maupun esensi. Satu respon diri yang reflektif seperti: alih-alih langsung melabeli ini salah atau benar, namun menanyakan terlebih dahulu: “Kenapa hal ini bisa terjadi?”. Dalam kehidupan sehari-hari, otak kita dilatih cepat untuk mengkategorikan sesuatu: ini benar, itu salah; itu kawan, ini lawan. Seni mengajarkanku sebaliknya. Karena seni menciptakan ambiguitas, karena seni mengizinkan dua hal bertentangan untuk eksis di satu ruang yang sama. Saat melihat karya yang provokatif, penonton tidak bisa langsung memberikan jawaban “ya” atau “tidak”, namun ketidakpastian itulah yang memberi ruang bagi otak untuk mengeksplorasi perspektif lain sebelum menghakimi. 


Eksplorasi Ruang “Andai” (The Space of ‘What If’)

Seni menjadi laboratorium tempat kita bisa mensimulasikan realita tanpa resiko sosial yang besar. Kita bisa bertanya: “Gimana kalo dunia ini gak seperti yang selama ini kita pelajari di buku?” atau “Gimana kalo misal dia yang aku benci tuh sebenernya punya sisi ini?

Ruang “andai” ini adalah latihan bagi otot toleransi kita. Semakin sering orang terpapar proses eksplorasi ruang berpikir, baik dalam seni atau sains atau bidang lainnya, semakin lentur pikiran mereka dalam menghadapi perbedaan di dunia nyata.

Seperti pilot yang sedang belajar pakai flight simulator sebelum terbang betulan, seni mengizinkan kita semua mencoba sebuah realita alternatif. Kita bisa berandai-andai: “Gimana kalo dunia ini manusia gak punya sifat serakah?” atau “Gimana kalo misal kita bisa lihat wujud ruh manusia?”. 

In this modern day, kita banyak berbentur dengan perbedaan pendapat dan idealisme, apalagi jika kita terjun di kesenian yang sangat kaya akan pemikiran ini. Menghadapi persimpangan antara idealisme pribadi, keterbukaan global, dan benturan nilai sosial memang menjadi tantangan wajib bagi pelaku kreatif manapun saat ini. Posisi seni seringkali menjadi wadah pertama di mana isu-isu sensitif seperti kesehatan mental atau spektrum identitas yang dieksplorasi terlebih dahulu sebelum diterima secara luas oleh masayarakat.


Selalu Ada Titik Temu

Jika sudah belajar konsep berpikir melalui seni, kita bisa menggunakan cara praktis dan filosofis untuk menguraikan pro kontra tanpa kehilangan integritas diri. Dalam dialog perbedaan pendapat, kita bisa gunakan skeptisisme yang sehat. Kita boleh tidak setuju, tapi kita bisa jadi pendengar aktif. Dan mendengarkan bukan berarti mengalah, melainkan mengumpulkan referensi diri dalam memahami struktur sosial yang ada di sekitar kita. “Ketidaknyamanan” yang muncul dalam diri adalah bagian dari proses yang wajar, terlebih di dunia modern yang terbuka ini menuntut kita semua untuk nyaman untuk ambiguitas. Kita bisa tetap punya core value atau nilai diri yang berbeda sebagai kompas, namun tetap membiarkan jendela otak terbuka agar angin informasi baru bisa masuk. Dengan demikian, kita bisa menghargai hak seseorang dalam berpendapat tanpa harus mengadopsi pendapat tersebut menjadi keyakinan diri. Orang yang pintar selain minum Tolakangin, ia juga tahu bahwa pro kontra adalah sebuah bahan yang mudah terbakar. Toh, perbedaan pendapat tidak harus diselesaikan saat itu juga bukan? 

Lalu dimana titik temunya? Nah, isu-isu panas dalam perdebatan seperti kesehatan mental atau LGBTQ seringkali memicu reaksi keras karena perbedaan dogma. Kita memang bisa berempati atas dasar rasa sakit, perjuangan, dan keinginan untuk diterima. Tapi itu terlalu dangkal dan kupikir terkesan merendahkan. Kupikir, kita semua memiliki martabat (dignity) dan kedaulatan diri sebagai manusia yang setara. Dan itu adalah humanisme yang melibatkan akal sehatmu. Isu-isu modern sering kali dibenturkan dengan emosi dan ego yang meledak-ledak. Dengan belajar berpikir yang mendalam melalui seni, kita bisa tertantang untuk berpikir secara adil: “Adil gak ya kalau seseorang jadi kehilangan hak untuk berkarya atau hidup tenang cuma karena orientasi dan kondisi mentalnya?”. Dan itu adalah hal paling basic dari humanisme, loh. Yaitu sebuah penghormatan terhadap eksistensi manusia. Kita bisa bersikap baik dengan menghargai eksistensinya dan tetap memegang teguh prinsip personal kita sendiri. Bahkan tanpa perlu bilang, “Eh, pilihanmu bener sih menurut keyakinanku.

Analogi yang paling sederhana, kita seperti melihat seseorang yang tenggelam di laut. Kita menolognya karena dia adalah manusia (penghormatan eksistensi), tanpa perlu bertanya apa agamanya, apa dosanya, atau apakah dia setuju dengan pandangan politik tertentu (bukan validasi dogma). Kita tolong hidupnya, bukan berarti menyetujui seluruh isi otaknya. 

Dan inilah yang kumaksud dengan titik temu kemanusiaan: Kita bisa saling memanusiakan tanpa harus saling menyamakan keyakinan.


Kamu Merasa Terancam?

Nah, ini adalah realita yang sering sekali kita hadapi. Bagi banyak orang, perbedaan bukanlah kekayaan, tapi suatu ancaman terhadap kenyamanan dan keteraturan. Ketika seseorang melabeli perbedaan sebagai “penyimpangan”, mereka sebetulnya sedang mencoba melindungi struktur dunia yang mereka pahami. Karena manusia cenderung merasa aman dalam keseragaman. Jadi ketika ada hal baru yang tidak masuk dalam kotak-kotak kategori yang mereka pelajari sejak kecil (misal: kotak agama, kotak tradisi), otak mereka mengirim sinyal bahaya. Jadi tidak heran kalau bagi sebagian orang, perbedaan terasa seperti glitch atau kerusakan dalam system yang harus diperbaiki dan disingkirkan agar dunia kembali terasa “benar”.

Mereka tuh nular banget tau, gak nyaman jadinya! Nyeremin!” Kata salah satu rekanku yang masih mencoba memahami perbedaan soal orientasi seksual manusia. 

Fokus pada “ruang ketiga”. Ruang pertama adalah keyakinan mereka. Ruang kedua adalah keyakinanmu. Ruang ketiga dalah ruang di mana kalian berdua bisa berdiri Bersama melihat sebuah objek (karya seni/ sebuah isu) tanpa harus saling menyerang. Di ruang ini, biarkan ketidaknyamanan itu ada. Let it be! Ketidaknyamanan sebetulnya adalah tanda bahwa seseorang sedang belajar. Tanpa rasa tidak nyaman, bakal tidak ada pertumbuhan cara berpikir. 

Dan seperti yang kubilang di paragraf sebelum-sebelumnya, asal kita memiliki nilai diri atau filter kritis yang kuat, kita tetap bisa eksis di ruang yang sama, bahkan dengan dua, tiga, empat, lima, atau berapapun hal yang bertentangan.