Sedinding Baja dan Api Pelebur
Malam ini ingin petang saja, tanpa hangat pendar lilin tua bangka yang disulut ribuan kali oleh para cecunguk itu. Sebab siangnya aku panas sekali, selain karena polusi bubuk mesiu, juga karena jerit-jerit minta mati para janda di dalam. Aku malas berpikir soal dualitas ini dan itu, apakah ini, apakah itu, mengapa ini. Karena sesak, putus asa mulai nampak. Putus asa lalu ambil alih, dan aku adalah saksi dari mereka yang mengarang sejuta dalih. Dalam jajaran kubus ini, yang cuma tiga kali tiga meter per sekatnya ini juga berpenuh mahkluk tiap jengkalnya. Bukannya mati terbakar karena api, tapi karena panas mereka sendiri. Nyata, mereka kehabisan nafas dalam pilu yang sama. Bukannya bahu membahu, malah beradu borok batin. Tapi itulah. Pikirku, relung batin mereka sudah tergorok habis. Teori Susan & Richard dalam ilmu psiko modern di tahun 60-an mendatang jelas tak berlaku.
Kemampuan dan kemauan berlaku sebagai pemain awak. Diriku yang tak mampu ditembus Toro Bravo ini tahu betul. Bisa dan mau itu oposisi. Bisa bukan berarti mau, mau bukan berarti bisa. Tak bisa juga tak berarti tak mau. Dan sebaliknya. Melihat mereka, dengan segala maaf Tuhan, aku tak mau. Tak mau mengunjukkan sedikitpun simpati. Sebab gelintiran jiwa mereka rusak sudah, dan aku yakin betul tak ada toko reparasi Tuhan yang mampu menempa mereka.