Percaya pada Siapa
Minggu, 25 Maret 2018
by lele
![]() |
| by VSCO |
Kami membaca, dan bukannya mendengar.
Kami tertawa sendiri, dan bukannya tertawa bersama.
Kami sama-sama di depan cahaya redup.
Kami sama-sama di ujung dunia.
Kami sama-sama rindu.
*
Aku terkejut setengah mati, ketika ia berkata bahwa ia akan segera menemuiku. Dan ternyata ia hanyalah bercanda. Kemudian ia berkata, "suatu saat, pasti.".
Aku takut, haruskah aku percaya padanya atau diriku sendiri. Semua orang akan mengatakan, percayalah pada dirimu sendiri. Namun, diriku sendiri pun sudah tak mampu memastikan. Lalu bagaimana aku bisa percaya? Baiklah, aku percayakan ini semua kepada Tuhan.
Aku tak bisa memberikan kepercayaan kepada siapa pun lagi kecuali Tuhan. Dan ayah dan ibuku. Walau ayah dan ibu seringkali tak mengerti diriku, atau akulah yang tak mengerti mereka, aku percaya pada mereka berdua bahwa mereka adalah dua malaikat utusan dari Tuhan yang akan menjagaku di dunia.
Tarik nafas, hembuskan.
Aku bahkan ragu. Hendak melanjutkan atau tidak? Tulisan ini, ya, tulisan yang sedang kalian semua baca inilah yang mungkin akan menjadi pengantar dalam berakhirnya dari apa yang kuharapkan. Apa kalian belum mengerti juga apa yang sedang kubicarakan?
Teman.
Sederhana sekali, apa yang menjadi setengah dari pikiranku adalah teman. Perkenalkan, aku adalah gadis dengan penuh tawa dan banyak teman. Namun tak satupun yang pernah menjadi 'teman'ku. Bahkan di dunia virtual pun, aku memiliki banyak teman. Tapi, ya sudahlah.
Berkali-kali aku terbang dan kemudian jatuh tanpa pengaman. Sakit. Kalian tahu apa artinya? Aku terlalu banya berharap. Sudah ribuan kali otakku bersikeras, "jangan lakukan! Atau kau terluka lagi!". Namun hatiku juga bersikeras, "ayolah, mungkin kali ini dia adalah orang yang bisa jadi temanmu.". Dan inilah aku sekarang. Luarku penuh tawa dan senyum. Dalamku penuh luka dan takut.
Dan kali ini, nampaknya aku sedang menggali luka yang dalam. Dengan menulis tulisan ini. Ya, tulisan ini. Sejujurnya, tulisan ini adalah untuknya. Untuk orang yang berharga untukku. Di suatu tempat. Oh, lagi-lagi aku terlalu banyak berharap lagi. Dan mungkin nantinya aku akan terluka lagi, bahkan lebih sakit.
Tolonglah, kau jangan pergi. Bisakah kau menjadi temanku? Tepatnya, teman baikku? Maksudku, di saat aku sedih, kau ada. Di saat kau sedih, aku ada. Dan membicarakan banyak hal yang serius, ataupun sekedar hal-hal kecil yang bodoh.
Aku tahu. Yang kulakukan sekarang ini adalah perbuatan yang akan mengakhiri harapanku. Mengakhiri aku yang sedang terbang. Apa kau mengerti maksudku? Orang yang kuanggap teman yang berharga, satu persatu akan hilang. Dan saat aku menulis tentang mereka, lebih tepatnya mereka akan menghilang dengan pasti. Ini bukanlah mitos, ataupun kebohongan belaka. Aku sudah mengalaminya, berkali-kali.
![]() |
| by favim |
Hai, aku harap kau selalu ingat aku. Dan aku akan mengingatmu selalu. Aku harap kita akan bertemu sungguhan, dan aku akan memelukmu. Aku membayangkan kita sedang berada di sebuah kafe dan membicarakan banyak hal, sampai tak sadar bahwa kafe sudah mau tutup. Seperti kita menuliskan banyak hal, di dunia virtual itu. Kita bahkan lupa waktu. Hai, aku harap kau membaca ini. Dan aku akan sangat senang sekali. Maafkan aku karena sudah terlalu banyak berharap pada kau yang bahkan hanya mampu kulihat di depan muramnya layar kaca.
Sunday 25/3
11:26 pm
Tags
story

