Hutan yang Katanya
Selasa, 29 Mei 2018
by lele
![]() |
| Sumber : Google |
Inspired by a game
Sudah mulai gelap. Padahal tadi, matahari masih ada tepat di atas kepala. Awan telah berkumpul di atas pepohonan yang luas, sembari menghembuskan nafas dingin. Membuat dahan-dahan berderit. Dedaunan yang telah kering di atas tanah berlarian mengikuti nafas dingin yang dihembuskan oleh awan. Pun rambutnya yang hendak berlari mengikuti sang angin. Ia melihat ke atas. Hujan, pikirnya. Sedangkan ia ada di tengah lembah yang cukup jauh untuk kembali.
Ia menatap wadah yang dibawanya. Isinya jamur-jamur hutan. Hanya itu yang ia bawa dan ia dapat. Tak ada payung. Kemudian, matanya yang lebar memandang sekeliling. Tak ada daun lebar, pikirnya. Hanya ada dedaunan yang melambai-lambai tinggi di atas pohon-pohon itu. Sedangkan awan-awan itu siap untuk menangis hebat.
Ia pun berjalan sebentar, mencari perlindungan dari tetesan air mata sang awan. Dua puluh langkah, tiga puluh langkah, tak ada hasil. Nihil. Yang ada hanyalah sekumpulan pohon, dan kini ia berdiri di tepi danau. Awan-awan yang mulai menangis itu makin terlihat jelas dari dekat danau. Rambutnya yang dipotong sebahu, mulai basah. Ia memeluk erat embernya. Kemudian menatap kepada jamur-jamur hutannya. Apa kubuang saja? Pikirnya lagi. Tapi ia telah berada di dalam hutan itu sejak subuh, hanya untuk berburu jamur. Sia-sia jika ia melakukannya.
Ia terdiam sejenak. Ah, masih ada besok. Besok aku bisa kembali ke sini, katanya dalam hati. Ia pun menumpahkan jamur-jamurnya ke atas tanah yang telah basah oleh air mata sang awan.
“Kala!”
Ia terkejut. Tangannya yang sibuk terhenti oleh suara itu. Darimana? Ia tidak melihat siapa-siapa.
“Kala, disini!”
Ia memicingkan matanya. Ada seseorang di antara semak berduri yang agak jauh darinya. Seseorang itu melambai kepadanya. Awalnya ia takut, namun persetan, katanya. Hujan sudah mulai mengamuk. Ia kemudian memasukkan jamur-jamurnya ke dalam ember. Lalu berlari ke arah orang itu.
“Kemari!”
“Enos?!”
Ia terkejut melihat Enos setelah matanya cukup jelas untuk mengenali orang itu.
“Sssst! Kau diam saja, ikuti aku.”
Tanpa sadar ia menurut pada Enos. Mungkin karena hawa hutan ini mulai menggila. Dan air-air kiriman dari langit ini makin asyik menerjuni bumi.
Enos berjalan di depan, agak jauh. Langkahnya cepat. Sampai Kala pun agak kewalahan. Beberapa langkah kemudian, Enos berhenti, tanpa Kala sadari. Kala yang nafasnya tak teratur dan melangkah sembari menatap ke tanah, akhirnya menabrak Enos.
“Jalan yang benar!”
“Ah, maaf.”
Kasar sekali, pikir Kala. Ia mendongak, melihat sebuah gua. Padahal selama ini ia tak pernah menemukan gua. Kemudian ia melihat ke belakang, terkejut. Terkejut karena tadi ia telah berjalan menaiki bukit kecil di tengah hutan. Ia sedikit bingung.
“Cepat masuk, hujan.”
Enos berkata sambil menunjuk langit. Spontan Kala berlari memasuki gua yang gelap itu. Penuh batu, namun hangat, anehnya. Tidak sedingin di luar. Letaknya juga cukup tersembunyi. Karena tertutup oleh pepohonan yang tumbuh rapat.
“Hati-hati, licin.”
Baru mendengar kata-kata Enos, Kala sudah tergelincir. Siku Kala menghantam lantai gua yang agak kasar dan licin itu.
“Aduhhhh.”
“Cih, baru juga kubilangi.”
Enos mendengus. Kemudian ia menatap luar gua, tak memedulikan Kala yang masih mengaduh-aduh.
Kala mengelus-elus sikunya. Setelah kemudian tidak sakit lagi, perlahan ia duduk. Enos yang duduk agak jauh darinya sedang sibuk menatap langit. Enos tak bergeming dengan Kala yang mengamatinya. Kala pun turut sibuk menatap langit.
Membosankan, katanya dalam hati setelah melihat langit beberapa menit. Ia pun heran apa yang asyik dari hal itu bagi Enos. Ia kembali mengamati Enos. Rambutnya basah dan berantakan. Sebentar-sebentar ia memejamkan mata, entah apa yang dipikirkannya. Membuat Kala makin heran.
“Apa yang kau lihat?”
“Maaf.”
Ucapan Enos membuat Kala terkejut. Ia langsung memalingkan pandangannya dari Enos. Ia sedikit heran dengan sikap Enos yang sangat cuek dan sinis. Tidak seperti Alan, Prim, atau Didut. Di antara mereka berempat, Enos adalah yang paling tak peduli.
“Ada apa sih di atas langit itu?”
Ucap Kala setelah rasa herannya semakin menjadi.
“Apa yang kau bicarakan?”
“Langit yang kau amati itu. Memangnya di atas sana ada gajah terbang?”
Enos tak menjawab pertanyaan Kala. Ia masih saja mengamati langit abu-abu yang menangis itu. Setelah beberapa lama, ia akhirnya menjawab.
baca sambil dengerin suara hujan ini deh, lebih seru!
“Tak ada apa-apa.”
“Lalu kenapa kau terus memandanginya?”
“Kenapa?”
“Ya, kenapa?”
Wajah Enos tampak sedikit berseri, sembari ia berpikir.
“Kau ini banyak tanya, ya.”
“Hal itu aneh, makanya aku tanya. Kau memandangi langit yang tak ada gajah terbang atau bahkan burung-burung. Langit hanya abu-abu saat ini.”
Lagi-lagi Enos terdiam. Kembali memandangi langit. Kala masih mengamatinya, sembari menunggu jawaban dari Enos.
“Kau, lalu apa yang kau lakukan sendirian di tengah hutan seperti ini?”
Ucap Enos yang sebaliknya memberikan Kala pertanyaan. Kala mengangkat jamur hutan yang ia kumpulkan, sembari tersenyum.
“Aku tak sendirian, ada kau. Benar tidak?”
“Ya ya ya, terserah kau saja.”
Kemudian Enos masih saja memandangi langit abu-abu itu. Sangat mengherankan, pikir Kala. Nampaknya Enos tak ingin diajak bicara. Ia lebih suka tenggeam dalam imajinasinya dengan sang langit yang abu-abu itu.
“Memandangi langit membuatku banyak berpikir.”
Ucap Enos akhirnya, setelah waktu yang cukup lama. Kala yang tadi melamun, kini kembali mengamati Enos yang masih saja mengarahkan pandangannya ke luar gua.
“Memang apa yang kau pikirkan?”
“Banyak hal.”
Kala tak menanggapi. Ia kini terdiam, sembari memandang ke luar gua. Hujan semakin deras. Jarak pandangnya pun hanya sebatas beberapa meter saja. Bukannya abu-abu lagi, langit kini berwarna hitam. Dan hari nampak sudah malam, walau sesungguhnya masih pukul dua belas siang.
“Langit memang luas, membuatmu banyak berpikir.”
Ucap Kala, akhirnya. Pandangan Enos yang dari tadi terpaku pada luar gua kini mengarah kepada Kala yang sedang mengamati hujan.
“Hah?”
“Benar bukan? Langit sangatlah luas, sampai membuatmu banyak berpikir.”
“Um, mungkin.”
“Ya, langit sangat luas, membuatmu banyak berpikir, tenggelam dalam imajinasi, namun tak membuatmu tergugah, seringnya.”
“Apa maksudmu?”
“Jika kau mengamati tupai di atas pohon, atau ikan di dalam danau, mereka memiliki sesuatu untuk dilakukan. Mereka menyelesaikan hari-hari mereka. Walau hanya awan, mereka juga memiliki sesuatu untuk dilakukan. Awan hujan, mereda, selesai, kemudian pergi.”
“Jadi?”
“Langit akan terus ada di atasmu. Langit tak akan pergi. Langit hanyalah wadah bagi sesuatu yang ada di atas. Awan, matahari, burung.”
Kala terdiam. Begitu juga Enos. Nampaknya Enos masih tak mengerti juga dengan ucapan Kala.
“Aku tak mengerti.”
“Dengar, jika yang kau amati adalah langit, dan bukan awan, burung, atau petir, kau hanya akan terhenti di situ. Entah apa yang kau pikirkan, jika dengan keadaanmu itu kau memandangi langit terus menerus, hidupmu akan seperti komidi putar.”
“Aku mengerti.”
“Ya, baguslah. Mengamati hewan atau tumbuhan, atau bahkan sekedar awan, menurutku lebih baik. Melihat kegiatan mereka membuatmu bertanya-tanya, dan bagaimana mereka menyelesaikan hari-hari mereka memberimu inspirasi yang lebih luas.”
“Aku tau, aku bukan anak kecil.”
“Maaf.”
Enos terdiam, sembari memandangi Kala. Ia sukses dibuat bungkam oleh kata maaf yang dilontarkan Kala.
“Kenapa kau selalu berkata maaf?”
“Aku juga tak tahu.”
“Gadis kota memang aneh.”
“Woah, melamun memandangi langit lebih aneh bagiku.”
Enos tertawa kecil, membuat Kala sedikit terkejut dengan sisi lain tak terduga milik Enos yang sedang dilihatnya. Melihatnya tertawa adalah hal yang sangat jarang atau tidak pernah disaksikan oleh warga desa, atau bahkan seorang Kala.
“Aku sukses membuatmu tertawa, bung.”
Wajah Enos sedikit memerah. Ia tampak berusaha menyembunyikannya.
“Aku tidak tertawa, rahangku nyeri.”
“Aku harap rahangmu nyeri sungguhan.”
“Gadis kota memang mengerikan.”
Enos tersenyum tipis, sembari berusaha menyembunyikan senyumannya. Kala tertawa menyaksikan hal itu. Mengancam akan menyebarkan berita bahwa ia telah menyaksikan fenomena hebat, yaitu Enos akhirnya tertawa.
“Diamlah! Memangnya sikumu tidak sakit?”
Enos sedikit berteriak malu. Membuat Kala semakin ingin tertawa. Namun juga membuatnya ingat dengan sikunya yang tadi menghantam lantai gua dengan cukup keras. Ia kemudian melihat sikunya.
“Aw.”
Tanpa Kala sadari, sikunya memar, berdarah. Hawa dingin dan percakapan tadi membuatnya lupa dengan rasa sakitnya.
“Bagaimana bisa kau lupa dengan sikumu? Bodoh.”
“Aku juga tak tahu.”
“Kemarikan sikumu!”
Enos berdiri, berjalan masuk ke dalam goa yang gelap. Beberapa detik kemudian, ia kembali. Sembari membawa kotak P3K yang entah dari mana asalnya. Kala mengernyitkan alisnya, heran dengan kotak yang dibawa Enos tersebut. Bagaimana bisa, pikirnya.
“Apa gua ini semacam tempat teleportasi?”
“Apa maksudmu?”
“Kau tiba-tiba datang membawa kotak P3K, itu mengherankan.”
“Delapan belas tahun aku hidup di desa ini. Setiap hari aku pergi ke hutan.”
“Apa hubungannya?”
“Gua ini seperti rumah kedua bagiku.”
“Gila! Jadi selama ini kau adalah manusia gua? Seperti Wiro Sableng?!”
“Bodoh, bukan!”
Enos menarik tangan Kala, kemudian memeriksa sikunya yang berdarah. Ia kemudian membuka kotak P3K, mengambil perban, dan beberapa obat. Sembari membersihkan luka Kala, Enos melanjutkan,
“Gua ini kutemukan saat umurku sebelas tahun. Dulu masih penuh semak berduri.”
Kala melihat tangan Enos yang penuh dengan luka goresan, yang membuatnya kini paham darimana asal luka-luka tersebut. Kala diam. Masih ingin mendengarkan dongeng menarik milik Enos. Enos masih membersihkan siku Kala yang kotor. Perih, kata Kala dalam hati.
“Aku tak betah di dalam rumah, tapi aku juga tak betah di keramaian. Jadi aku pergi ke danau tiap hari. Dan alhasil, gua ini kutemukan saat hujan, sama sepertimu.”
“Hebat.”
“Aku? Tentu saja. Tapi kau tidak. Tadi kalau aku tak menolongmu, mungkin kau sudah terkena hipotermia.”
“Hehe, baiklah. Terima kasih ya.”
Enos tidak menjawab. Ia masih serius dengan membalut luka Kala. Ia tampak sangat hati-hati. Berkali-kali ia bertanya, sakit atau tidak.
“Lalu kau, bagaimana bisa kau sendirian pergi ke dalam hutan ini?”
“Aku pergi saja, tanpa pikir panjang.”
“Bodoh, kau itu perempuan.”
“Lalu kenapa? Hanya karena aku perempuan, aku dilarang masuk ke sini?”
Enos menghela nafas singkat, sembari menutup kotak P3K setelah selesai membalut luka Kala. Kemudian ia memandang Kala dengan heran,
“Kau ini, sebelumnya tak pernah pergi ke hutan ya?”
“Aku sudah ke sini lima kali.”
“Maksudku, kau tidak tahu kemungkinan apa saja yang bisa terjadi. Benar bukan?”
“Um, yah, mungkin.”
“Kau tidak tahu rumor yang disebarkan para tetua desa tentang hutan ini?”
“Apa memangnya?”
“Katanya, hutan ini banyak hewan buas. Dan penunggu berawak raksasa. Tapi faktanya di sini hanya ada ular air dan kalajengking.”
“Cukup mencengangkan bagiku.”
Enos tertawa, lagi. Padahal Kala tidak melucu, atau mengeluarkan perkataan yang lucu.
“Di kota, kau menemui orang jahat. Mereka merampok, atau bahkan tidak segan untuk melukai dan membunuh. Menurutku itu lebih berbahaya.”
Jawab Kala, setelah berpikir sejenak. Kini pandangan Enos terpaku, pada Kala. Nampaknya ia mulai penasaran pada kehidupan Kala.
“Ada pertanyaan dalam otakku sekarang. Kenapa kau tiba-tiba bisa pindah ke sini?”
Mulut Kala tertutup rapat. Pertanyaan itu sukses membuatnya teringat kembali pada kehidupannya dulu. Penuh dengan gejolak.
“Hm, singkatnya, aku menyesal pada diriku. Dan desa asal orangtuaku ini adalah penjara hukuman untukku, bagi papa dan mama. Katanya agar aku berubah.”
“Cukup mencengangkan.”
Kala mengernyitkan alis. Barusan ia mendengar Enos menduplikat kata-katanya.
“Hei, itu kata-kataku, bung.”
“Aku tau, haha.”
Suara hujan semakin keras. Entah kapan, hujan akan berhenti mengamuk. Kala dan Enos sedikit mundur dari mulut gua. Mulut gua yang tadi kering kini terhempas air hujan dan mulai basah. Antara di dalam dan di luar gua, terdapat perbedaan kontras. Di dalam sepi. Sedangkan di luar, antara suara dedaunan dan hujan, mereka semua bergemuruh. Ditambah, keheningan di antara Kala dan Enos.
Kala memandang sekeliling gua. Sangat gelap di belakangnya. Ia tak tahu seberapa dalam gua itu. Beberapa batu terbentuk seperti kursi, anehnya.
“Kal,”
“Hm?”
“Akan kutunjukkan sesuatu.”
Kala memandang Enos yang kemudian berdiri, lalu mengambil senter di dalam sakunya. Enos menekan tombol pada senter itu, dan cahaya menyeruak di seisi gua. Mulut Kala menganga. Ternyata gua itu sangat luas. Tak Kala sangka, banyak sekali barang di dalam gua yang ia pijak itu. Ada meja yang dibuat seadanya dari kayu pinus, kursi dari gelondong kayu, bahkan tempat tidur. Tempat tidurnya pun, dibuat seadanya.
“Kau serius?! Ada tempat tidur di dalam sini!”
Kala berjalan pelan menuju tempat tidur itu. Pondasinya dibuat dari kayu pohon yang sudah mati, dan tak terlalu empuk. Karena isinya terbuat dari daun-daun kering. Ada kain melapisi tempat tidur itu, dan ada selimut. Sungguh mengherankan.
Di atas meja, ada lampu minyak dan lampu senter. Dan beberapa makanan. Kala tampak terpukau dengan semua benda-benda yang ada di dalam gua itu.
“Keren sekali!”
“Bukan ini yang hendak kutunjukkan.”
“Sungguh? Masih ada hal hebat lagi?!”
“Ikuti aku.”
Enos berjalan sembari menerangi depannya. Ternyata, ada lubang lagi di dalam gua itu. Lubang itu sempit, namun cukup untuk dilewati seorang. Kala mengikuti Enos yang berjalan dengan hati-hati. Dinding gua sedikit tajam, karena batu-batu itu.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka berhenti. Berhenti di sebuah ruangan gua yang cukup lebar, cukup untuk dua sampai tiga orang. Di depan Kala terdapat mulut gua yang mengarah pada hutan. Namun, bedanya dengan mulut gua yang tadi, mulut gua kali ini terletak di atas bukit. Di bawahnya adalah jurang. Kala bisa melihat danau di antara rintik-rintik hujan yang turun dengan semangat. Benar, gua ini memang tersembunyi, pikir Kala. Sangat indah sekali.
“Kau bisa saja duduk di sini selamanya.”
Enos tersenyum sembari memandangi Kala. Kala masih saja terpukau dengan pemandangan menakjubkan yang sedang ia saksikan dari atas sebuah mulut gua. Walau hujan masih mengamuk, ia sangat menyukainya.
“Kau benar.”
Kali ini, Kala lebih banyak diam. Pandangannya masih terpaku pada pemandangan itu di tengah hujan yang mengamuk. Pun Enos. Ia tampak beberapa kali memandang Kala, dengan tersenyum. Seorang Enos, yang dikenal sebagai pemuda cuek dan sinis di desa. Sisi lain Enos ada di dalam gua ini. Dan Kala bagai menemukan dua harta karun sekaligus, yaitu tempat ini dan sisi lain Enos.
Tags
story

