Kebetulan
Jumat, 01 Juni 2018
by lele
![]() |
| by vsco |
12:43 am
Dua minggu terakhir ini panas banget. Kadang mendung, kadang panas banget, tapi tetep aja hawanya bikin gerah. Bahkan, aku yang biasanya jarang banget minum air mineral, sekarang jadi rajin minum air putih sampai lebih dari tiga liter. Apalagi, aku sering banget di luar rumah. Katanya sih, udah musim kemarau. Tapi gerimis aja kadang masih turun. Mungkin pergantian musim kali ya?
Dengan malas, aku jalan menuju dapur untuk ngambil air mineral dan es batu. Setelah gelas kuisi penuh dengan air, aku membuka pintu kulkas. Dan wow, aku nggak mendapati adanya es batu di dalem situ. Sumpah ya, ini pasti kelakuan ngeselin adikku yang males buat ngisi lagi cetakan es batunya. Dan alhasil, saat orang lain sedang membutuhkan, yang bakal didapetin hanyalah cetakan es batu yang kosong melompong.
Akhirnya, air mineral yang terasa hambar dan sedikit hangat itu langsung kuminum, tanpa es batu. Hal itu bikin tenggorokanku nggak puas, dan akhirnya aku mutusin untuk pergi ke minimarket terdekat. Untuk beli minuman yang nyegerin, tentunya.
Deretan kulkas yang dijajarkan rapi menawarkan banyak pilihan minuman. Aku melihat satu persatu minuman yang (kelihatannya enak). Saat kubuka pintu kulkas, wow. Hal itu bikin aku pingin berada dalam kulkas itu sambil hapean seharian. Angin dingin. Di hari yang panas. Siapa sih yang nggak suka?
Aku mengambil minuman kemasan rasa jeruk dengan ukuran ekstra, kemudian segera menuju kasir. Ada beberapa orang yang lagi ngantri untuk bayar, dan hal itu sempet bikin aku ogah banget. Tapi untungnya, pendingin ruangan ada tepat di sebelah kasir, sehingga bikin betah siapa aja yang lagi ngantri.
“Es krim hitamnya kosong terus ya, kak?”
Aku terperanjat. Agak terkejut. Rasanya aku inget dengan pemilik suara itu tadi. Tapi kurang yakin siapa. Aku berusaha ngelihat orang yang lagi bayar itu, tapi sayangnya cuma bisa ngelihat rambutnya yang sebahu aja.
“Waduh, sayang banget, padahal pingin nyoba.”
Saat kasir ngasih kembalian ke orang itu, dia berbalik badan. Eh, tunggu. Dia kan?
******
Aku kaget sampai pingin kabur. Aku heran, di timing yang begini, kenapa harus ketemu orang itu? Orang itu bikin aku keinget dengan kejadian yang nggak mengenakkan saat itu. Aku baru sadar, aku memang sedang belanja di minimarket dekat dengan wilayah orang itu tinggal.
Aku segera berbalik, menuju pintu. Dan berharap semoga dia nggak sadar dengan ekspresi kagetku yang agak mecicil tadi. Aku membuka pintu, lalu memasukkan kembalian kembalian ke dalam kantong jaketku.
“Tunggu!”
Holy crap.
“Permisi, tunggu!”
Oh my God, apa dia harus seberusaha itu? Apa aku bakal ditonjokin sekampung? Apa aku bakal ditabrak pake vespa milik orang itu? OMG! OMG!
Orang itu agak berteriak dengan menepuk pelan pundakku. Otomatis, dengan ragu aku menoleh ke belakang. Dan mendapati wajah orang itu, tepat di depanku. Dengan ekspresi yang sama, saat aku tadi ngelihat dia di dalem minimarket. Bedanya, orang itu mulutnya menganga. Aku, nggak.
“Y, ya? Bisa saya bantu?”
Bodohnya, akibat bingungnya diriku ini, dengan gagap aku berkata hal kepura-puraan. Aku memberikan senyum kecut, dan berharap dia mengira salah orang.
“Sion kan? Dari SMA A? Vespa? Ingat?”
Oh-My-God. Sebatas informsasi bagi para pembaca, saat ini hatiku lagi teriak : HELLO?! BISA NGGAK AKU PINGSAN SEKARANG?!
“Bener, saya Sion dari SMA A. Anda siapa ya?”
Aku berusaha untuk bersikap cool, padahal dalemnya sih, aku ini keder banget. Kenapa dia harus inget sih?
“Aku Fagan, vespa navy yang waktu itu. Dan motor matic kuning. Malem hari, di persimpangan jalan. Inget nggak?”
Aku heran banget kenapa sih orang ini punya ingatan yang bagus banget sampai-sampai harus nyamperin si suspek utama dalam kejadian itu? Dan pernyataan-pernyataan yang baru aja dia ucapin tuh bikin aku speechless total.
“A, aaah! Kejadian itu! Y, ya, saya baru inget! Jadi anda yang waktu itu ya?”
Sumpah, ini bodoh banget! Aku heran dengan diriku sendiri saat ini yang sedang bicara dengan bahasa formal. Dalam hatiku, aku masih gugup banget sampai bingung mau bilang apa. Dan orang yang mengaku dirinya bernama Fagan dan vespa navy itu tetap menanyai diriku. Tapi herannya, nada bicaranya sama sekali nggak menunjukkan rasa marah. Tetap saja, hal ini nggak mengenakkan diriku yang sebagai suspek utama.
“Karena kebetulan, mau mampir dulu nggak?”
Orang yang bernama Fagan itu menunjuk kafetaria di depan kaca minimarket yang ada di sebelahnya. Padahal tadinya setelah aku belanja jajan di minimarket ini, aku hendak bermalas-malasan di situ. Karena memang tempatnya comfy banget. Apa boleh buat.
“Oke, deh.”
*****
Nggak nyangka, bakal ketemu anak itu di minimarket ini. Dulu rambutnya masih panjang sepunggung, sekarang sudah dipotong jadi sebahu saja. Dan ia masih tetep berponi di atas alis, sama kayak dulu.
Sambil meminum minuman yang kubeli tadi, aku masih berpikir topik apa ya yang bakal aku tanyain ke dia? Dan aku tau sebenernya aku bodoh banget tadi, ngapain juga sih pake aku cegah segala? Dan aku tau dia gugup banget tadi gara-gara aku yang sebagai korbannya dia ini.
“Ehem, jadi, gimana kabarmu?”
Kataku, setelah akhirnya aku tau apa yang harus aku katakan.
“Baik. Anda?”
Bahasanya agak bikin aku ngakak dalam hati. Dia gugup banget, sampai-sampai pakai bahasa yang formal banget.
“Hahaha, santai aja. Pakai aku kamu boleh banget, kok. Umur kita nggak beda jauh.”
Aku akhirnya ketawa juga. Selain keinget dengan kartu pelajar yang dulu dia kasihin ke aku sebagai jaminan. Aku inget semua yang aku lihat dan aku denger.
“Hah? Oh ya? Tau dari mana emang?”
“Kartu pelajar kamu.”
“Kartu pelajar?”
“Iya.”
Aku meminum minumanku dalam satu tegukan. Dan saat itu aku baru sadar bahwa cuaca masih panas banget sampai-sampai minumanku cepet banget habisnya. Setelah itu aku ngelanjutin,
“Dulu kan kartu pelajarmu pernah kamu kasih ke aku.”
“Hmm, iya ya.”
“Itu motor yang waktu itu ya?”
Tanyaku secara spontan saat ngelihat motor kuning yang dia bawa. Ada baret-baret kasar di sisi kanan motor miliknya, karena dulu jatuh dan terseret di sepanjang aspal.
“Iya.”
“...”
Oke. Sekarang aku bingung sama sekali harus ngejawab apa. Percakapan ini canggung banget. Semuanya gara-gara aku.
“Omong-omong, gimana kabar vespanya kakak?”
Tanyanya setelah beberapa saat. Aku jadi teringat, dulu motorku juga terseret di sepanjang aspal, sama seperti motornya.
“Baik kok, sekarang lagi dipinjem sama temen.”
“Aaah, temen yang waktu itu?”
“Yang mana?”
“Yang waktu itu dateng nolongin kakak.”
“Ohh, dia ya. Bukan, beda lagi, kok.”
Aku teringat Brian, yang waktu itu dateng nolongin aku. Waktu itu dia agak kesel dengan si Sion ini. Dan waktu itu kayaknya, si Sion ini agak takut dengan Brian.
“Oh ya,”
Kataku.
*****
“Oh ya,”
Kataku. Dan secara kebetulan, barengan ngucapinnya.
“Oh, kakak duluan deh.”
“Aku minta maaf.”
“Hah? Soal apa?”
“Soal waktu itu.”
“Kenapa?”
“Di kejadian itu, kamu yang jadi suspek utamanya. Padahal aku juga salah.”
Aku terdiam. Dan berpikir sejenak. Kalau dipikir-pikir, selama ini, terkadang aku memang kesel sama orang yang benama Fagan ini. Dan aku beberapa kali mengumpat di belakangnya. Dan yang barusan dia ucapin ini sukses bikin mulutku terkunci rapat.
“Waktu itu aku ngebut. Dan karena panik, aku nggak tau mau gimana, dan bukannya ngerem motorku. Padahal kamu gonceng temen.”
Kalau hal itu dia bener. Dia memang orang yang menabrakku. Tapi ini juga karena salahku yang nggak tau bahwa saat putar balik, kita harus ngambil sisi kanan jalan, dan bukannya sisi kiri jalan. Tapi saat itu aku ngambil sisi kiri jalan, dan alhasil, terjadilah sesuatu yang bikin aku saat ini ada di sini, berbicara dengan orang bernama Fagan.
Waktu itu, aku lagi ngojekin temanku pulang. Kami baru aja pulang dari melayat seorang teman, walau sebenernya kami nggak kenal ‘almarhum-dia’ ini siapa --namun sebagai rasa solidaritas satu jurusan sekolah. Dan saat itu udah di atas jam sepuluh malam, selain itu papa udah neleponin aku terus. Intinya, aku nyusahin semua orang. Dan itulah kenapa hal ini kusebut sebagai kejadian yang nggak mengenakkan.
“Intinya, aku minta maaf. Maaf udah nyusahin kamu.”
Kalaupun ada backsound saat ini, aku bakal terharu sampai nangis yang kayak ada di drama-drama. Aku bingung harus jawab apa. Dan ucapannya bikin aku mikir untuk beberapa detik.
“Yang seharusnya minta maaf kan, aku.”
“Nggak.”
“Iya.”
“Nggak, ak ...”
“Kamu nggak bisa mungkiri, waktu itu aku masih belum cukup umur untuk bawa kendaraan. Emosiku kurang stabil. Bahkan aku nggak tau kalo harus ambil sisi kanan jalan setelah puter balik. Ya nggak?”
“...”
“Bahkan, aku bikin semua lututmu luka banget. Aku bahkan nggak ikut dateng ke kamu waktu orang tuaku jenguk kamu. Ya nggak?”
Aku menghantamnya dengan pernyataan-pernyataan yang bertubi-tubi, sambil nunjuk kedua lututnya yang terdapat banyak bekas luka karena waktu itu.
“Oke deh, kita impas. Bener nggak?”
“Um, aku nggak yakin. Aku masih aja ngerasa bersalah.”
“Denger nih ya. Semuanya udah baik-baik aja, jadi kamu bahkan nggak perlu ngerasa bersalah.”
“...”
“Deal?”
“Aku heran.”
“Hah?”
“Sebagian besar orang bakal benci kalau ada di posisimu. Sebagian besar orang bakal marah. Apalagi kalau ketemu, yang ada cuma ada rasa canggung. Tapi kamu? Enggak.”
“Hmm, itu kan sebagian besar orang.”
“Maksudnya?”
“Kamu bilang, sebagian besar orang. Dan aku ada di sebagian kecilnya.”
“Jadi?”
“Aku nggak canggung, atau bahkan marah.”
“Yakin?”
“Yakin dong, seribu persen. Lagian, marah dan benci juga nggak ada gunanya.”
“...”
Jujur aja, aku pingin nangis. Bukan karena merasa bersalah lagi, tapi karena aku berpikir, di bumi ini masih ada orang sebaik dia. Sangat baik. Bahkan, kalau aku jadi orang yang bernama Fagan ini, aku bakal benci dan marah. Aku jadi teringat, saat itu, waktu itu kedua lututnya terluka karena bergesekan dengan aspal. Aku ngelihat darah di sekujur kakinya. Tapi dia bahkan bilang nggak apa terus menerus. Dia bahkan nggak marah atau neriakin kayak orang-orang saat ini.
“Oi. Kamu nangis?”
“H, hah? Nggak kok!”
Gila! Tanpa sadar mataku udah berkaca-kaca, dan ini memalukan banget. Rasanya pingin banget masuk tong sampah. Aku malu banget. Aku ngusap air mataku yang udah terlanjur keluar, dan berusaha nutupin mukaku yang lagi malu-maluin ini.
Aku ngelihat Fagan tersenyum saat dia ngelihat mukaku yang lagi berantakan ini. Kemudian dia tertawa.
“Kamu terharu ya? Hahaha.”
Dalam hati aku ngejawab iya.
“Ya ya ya, aku tau aku baik banget. Tapi nggak usah nangis di depan umum dong.”
“Cih.”
“Ntar aku dikira bikin cewek nangis! Kamu mau aku dihajar massa?”
*****
Rasanya aku lega banget setelah ngucapin maaf ke dia. Aku bersyukur banget dikasih kesempatan untuk ngobrol dengannya saat itu. Udah seminggu sejak teakhir kali aku dan si Sion ini ngobrol.
Dan yang paling mengejutkan adalah, nggak kusangka aku bakal ketemu Sion lagi, di kafetaria minimarket. Model rambutnya khas banget, sampai aku hafal dari belakang.
“Sion?”
“Hah, Kak Fagan?”
Aku ngelihat setumpuk bungkus jajan yang udah kosong di atas meja. Awalnya aku agak nggak nyangka dia bisa makan sebanyak itu sendirian. Bahkan aku nggak akan bisa ngabisin semua itu.
“Makanmu banyak juga, ya.”
Aku ngambil kursi dari meja sebelah dan duduk. Lalu minum minuman yang barusan kubeli tadi. Biasa, cuaca di minggu-minggu ini emang bikin capek. Dalam sekali teguk, botol minumanku udah kosong.
“Bosen.”
“Pelajar SMA banyak banget ya, waktunya.”
“Hm? Kak Fagan nggak kuliah?”
“Enggak.”
“Oh.”
“Nggak lama lagi kamu ujian kan? Kenapa nggak belajar aja?”
“Aku nggak suka belajar.”
“Hah? Nggak suka?”
“Uh huh.”
“Lucu banget.”
“Emang lucu?”
“Agak lucu aja sih. Aku baru tau, ada bocah SMA model kamu. Hahaha.”
“Cih.”
“Hei, denger nih. Balita nggak bakal bisa jalan kalo dia nggak belajar.”
“Aku tau. Tapi diusahain kayak apapun, aku nggak bakal bisa pinter. Emang dari sononya, otakku ini udah ciut.”
“Oke, oke, deh. Sori yak.”
“...”
“Oya, omong-omong, rambutmu unik banget. Beda dari yang lain. Dulu kan panjang, kenapa dipotong?”
Aku ngelihat Sion menghela nafas panjang. Dari tadi pandangannya ke depan terus, seperti melamun. Nampaknya badmood.
“Menurutmu kenapa cewek potong rambut?”
“Ummm ..., semacem memulai hidup baru?”
“Yah, gitu deh.”
“Oh ...”
“Oh ya.”
“Kenapa?”
“Kenapa kamu nggak kuliah?”
“Kenapa ya ...?”
Aku agak ragu untuk ngejawab pertanyaan Sion. Karena ukurannya, kami ini baru kenal satu sama lain. Dan alhasil, aku diem beberapa saat.
“Aku berasal dari keluarga nggak mampu. Kamu tau sendiri kan?”
“...”
“Tiap berangkat sekolah, kamu ngelewatin rumahku yang di pas di pinggir kali itu. Kamu pasti langsung ngerti dong.”
“Maaf.”
“Nggak ada yang salah kok, santai aja. Haha.”
Dan obrolan kami terus berlangsung. Bahkan aku sendiri sampai lupa waktu. Kami ngobrol banyak banget hal. Dan ternyata, kami bertemu nggak cuma sampe situ aja. Di lain hari, secara kebetulan lagi, aku bertemu lag dengan Sion. Semuanya terjadi karena kebetulan. Aku nggak tau ini bener-bener kebetulan apa nggak, tapi jujur aja, aku menyengajakan diri untuk ke minimarket itu.
*****
“Dih, kenapa musti ketemu di sini ya?”
Aku menoleh ke belakang, dan ngelihat ada orang yang benama Fagan itu lagi makan es krim. Setelah kuhitung, ini udah ke-enam kalinya. Dan aku nggak tau juga, kenapa aku bisa ketemu mahkluk itu di sini. Tapi kalau dipikir, emang minimarket ini deket dengan rumahnya sih.
“Serah deh.”
“Kamu kok nggak belajar?”
“Itu sih urusanku. Kamu sendiri kenapa nggak kerja?”
“Aku dipindah tugasin.”
“Hah? Ke mana?”
“Ke luar kota.”
“Bakal jarang ke sini lagi dong?”
“Kamu nungguin aku ya?”
“Nggak kok!”
“Hahaha, iya iya, santai dong. Tapi iya, aku bakal jarang ke sini lagi. Kamu belajar yang rajin, biar bisa masuk universitas yang kamu pingin.”
“Tau.”
“Jangan jadi kayak aku. Ujung-ujungnya jadi tukang anter paket.”
“Woi, kalo nggak ada tukang anter paket, paketku nggak bakal dateng.”
“Hahaha, iya juga sih.”
“Padahal Kak Fagan punya memori yang bagus banget, kenapa jadi tukang anter paket?”
“Bener kan? Memori ku emang bagus, aku pingin masuk jurusan sejarah atau jadi geologist, tapi yah, gitu deh. Kamu juga tau kan, orang tuaku single parent, adikku ada tiga. I choose my family. Umurku cuma beda dua tahun aja sama kamu, tapi aku ngerasa useless.
“Dih, jangan gitu dong! Lagian,”
“Apa?”
“Lagian kenapa juga nggak jadi model aja?!”
“Hah, model?”
Holy crap. Aku keceplosan.
“Y, ya, itu! Sadar nggak sih kalo wajahmu itu meyakinkan banget buat jadi model?”
“Emang.”
“Kalo dipermak dikit. Alismu kayak ulet bulu.”
“Yang penting ganteng.”
“Dih.”
“Hahahaha.”
“Ya udah kalo misal ntar bisnisku udah lancar, jadi modelku ya.”
“Deal. Yang penting ada fee.”
Dan obrolan kami berlanjut terus. Entah kenapa, jujur aja, saat itu aku menyengajakan diriku untuk datang ke minimarket itu. Semuanya cuma kebetulan.
Inspired by a true story
Tags
story
