Bukan Tahun Kelabu, tapi Tahun yang Hitam
Rabu, 29 April 2020
by lele
Bukan Tahun Kelabu, tapi Tahun yang Hitam
Penyempurnaan dari sajak [Judul Hanya Ada di Akhir]
Terinpirasi dari kisah nyata
Dulu kami paling kompak. Namun kini
laut seolah membentang jauh. Perdebatan kami selalu terdengar hingga langit
ketujuh. Bahkan Tuhan mengeluh. Kalian satu darah tapi Aku seperti mencipta api
dengan air, kata Tuhan dalam gema doa Ibu di ujung hari. Tiada ego yang
bersedia surut dari kami. Diri kami sama-sama menyembur api, bagai raja iblis
yang sedang mengadu kekuatan. Perselisihan kami seolah abadi. Tak ada penengah
yang berani berdiri. Dan Ibu kian menjadi korban. Hingga rela mengangkat
kakinya dari rumah pecah ini. Tidak, tempat ini sudah bukanlah rumah. Tiada
kehangatan yang didambakan-dambakan.
“Bapak tahu apa!” Bahkan dalam diri
Awan ini tiada rasa ngeri lagi pada dosa dan hukuman Tuhan. Awan tahu. Awan hidup,
tapi mati.
“Bapak berpikir kalau Bapak yang
paling benar! Tapi lihat! Bapak bahkan tak tahu ke mana Ibu pergi!” Kami saling
lengking. Mengeraskan suara masing-masing dari kami, dan tak ada yang mau
menjadi yang kalah.
“Kamu itu tidak mengerti, Awan!” Wajah
Bapak merah padam. Keringatnya sebesar biji jagung, walau sebetulnya cuaca
semuram perselisihan kami. Kalimat yang baru Bapak ucapkan adalah kalimat yang
paling Awan benci lebih dari apapun.
“Bapak yang tidak mengerti! Bapak
bertingkah seolah Bapak peka, padahal Bapak tak peduli! Iya kan! Sudahlah, Pak!
Awan Pergi!”
Di hari itu juga, Awan memutuskan
mengangkat kaki ini dari rumah penuh duka itu. Entahlah. Awan juga tak tahu ke
mana diri ini akan bersandar selain di rumah yang dulunya terisi penuh oleh
kasih itu.
“Awan!”
Bapak mencengkeram tangan Awan.
Wajah Bapak merah padam semerah tomat segar, dan tak mampu Awan baca raut wajah
Bapak. Awan menepis kasar cengkeraman Bapak. Kaki Awan melangkah cepat menuju
pintu. Membukanya, dan menutupnya sambil memandang kecut raut wajah Bapak yang
terasa menyakitkan itu.
“Awan! Kembali ke sini!” Awan sudah
melesat pergi dengan motorku sebelum Bapak sempat melangkah keluar rumah.
*
“Sudah lima hari. Mau sampai kapan
kamu tinggal di sini, Awan?”
“Pokoknya Awan tidak akan kembali ke
rumah itu.”
“Tidak mungkin.”
“Kenapa Tara terus memaksa Awan
untuk pulang?!”
“OK. Maafkan Tara, ya?” Tara duduk
di samping Awan. Ia mengelus pelan rambut Awan yang telah tumbuh hingga sebahu.
Walau ada rasa puas sebab lepas dari deraan rumah penuh duka itu, Awan tak
mampu berhenti menangis hingga hari ini. Tanpa aba-aba, air mata Awan
terus-menerus turun.
Tara memeluk Awan. Membuat Awan
berpikir, alangkah bahagianya jikalau Bapak dan Ibu bisa memeluk Awan seperti
Tara memeluk Awan.
“Menangislah hingga batinmu sendiri
menyerah untuk menangis, Awan.” Ucap Tara sembari membelai kepala Awan. Awan
dipenuhi ombak pikiran yang tak kunjung mereda. Tiap malam bagai hantu yang
abadi. Mata hanya terpejam namun tak mau terlelap. Awan hanya ingin terlelap. Ada
masalah sebesar alam semesta yang mengarungi isi kepala. Ratusan ribu mengapa
telah menguras habis tenaga berpikir Awan. Seolah tiga ratus enam puluh lima
malam menjadi trauma.
Sebetulnya perselisihan yang kekal
ini dimulai dari satu percikan. Semua itu perkara sederhana. Tapi manusia
memang suka mempersulit. Diri suka mempersulit. Dan kini seolah badai, petir,
dan ombak besar tak mau berhenti berdansa dalam diri Awan. Seperti mesin waktu
tiada ujung.
“Kamu tahu, Awan?” Ujar Tara yang
membangunkan lamunan Awan.
“Hm?”
“Orang tua bisa jadi yang paling
mengerti kamu. Karena selama dua puluh tahunmu, orang tuamu adalah sayapmu.
Tapi bisa jadi orang tua pulalah yang paling menyakiti kamu.” Tara mengambil
selembar kertas rokok, mengisinya dengan tembakau, lalu melintingnya. Kemudian
menekan pemantik api antik miliknya.
“Kamu tahu sendiri betapa bencinya
aku pada Ayah.” Awan jadi ingat Tara yang dulu sekeras batu dan pemarah akut
karena kebebasan yang ia dambakan selalu dihalangi oleh Ayahnya.
“Tapi Tara berusaha meracuni pikiran
ini sendiri dengan kebaikan yang telah Ayah lakukan pada Tara. Ayah adalah
tangga Tara. Tanpanya, Tara tidak akan sesukses dirinya seperti Tara yang
sekarang ini. Tara juga tidak akan bertemu kamu di sini jika Ayah tak mengirim
Tara ke kota ini.” Awan tak mampu membalas apapun. Awan lelah berucap, dan
hanya mampu mendengar Tara bicara.
“Tiada orang tua yang mau melihat
anaknya terpuruk, Awan. Mengertilah itu. Sekarang Awan coba berdamai dengan
batin Awan dulu, ya.” Tara mengecup kening Awan.
“Tara sayang Awan.”
“Awan juga sayang Tara.” Awan sudah
berhenti sesenggukan. Berkat Tara.
“Andai mengucap sayang pada orang
tua kita semudah ini, ya.” Ujar Tara.
“Iya, andaikan saja…”
*
Hari ketujuh
semenjak pelarian diri Awan. Hari ini Awan berniat pulang, diantar Tara. Awan
telah menyiapkan mental dan hati kuat-kuat. Semoga, ya, hari ini perselisihan
abadi kami luntur selama-lamanya. Awan rindu Bapak.
“Jangan lupa
ponsel kamu.” Kata Tara sembari menyodorkan ponsel Awan yang mati semenjak lima
hari yang lalu karena hujan. Awan menekan tombol hidup. Belum sempat membuka
layar kunci, panggilan masuk merundung ponsel Awan.
“Tara, Ibu telepon
Awan.” Awan sedikit gelisah karena kabar hampa Ibu selama dua bulan, dan kini
muncul bagai meneror ponsel Awan puluhan kali. Tara memberi isyarat pada Awan
untuk mengangkatnya.
“Ibu?” Ucap Awan
ragu. Awan mendengar nafas Ibu yang tak karuan dengan suara sengguk kasar dari
ponsel.
“Ibu? Ada apa?”
Sekali lagi Awan memanggil Ibu yang masih sesenggukan di ujung panggilan.
Kemudian disusul dengan suara gemetar Ibu yang berusaha menyusun kata demi kata
hingga Awan mendengar sebuah kalimat yang menghancurkan hati Awan di saat itu
juga. Awan tak kuat lagi. Ponsel Awan jatuh ke lantai. Kaki Awan betul-betul
lemas, hingga Awan ikut terjatuh pula. Tara tak tahu-menahu apa yang barusan
terjadi. Ia memegangi kedua tangan Awan, sambil berkali-kali menanyakan apa
yang terjadi. Di saat itu juga hati Awan hancur. Penyesalan memanglah hanya
berada di akhir. Awan sudah tak kuat menahan air mata Awan lagi.
“Tara, Bapak sudah
tiada.” Tara memeluk Awan erat setelah mendengar kalimat yang sebetulnya berat
untuk Awan ucapkan. Awan menangis sejadi-jadinya, mengetahui Bapak ialah salah
satu dari dua ratus ribu orang yang pergi ke sisi Tuhan.
*
Kami berasal dari
bumi, dan akan kembali pada bumi pula. Kami hidup di bumi, namun bumi tak hidup
di kami. Bumilah yang menghidupi kami. Tapi pada dasarnya manusia adalah
mahkluk yang tinggi hati. Ada dahaga yang hidup abadi dalam jiwa tiap manusia.
Kami seolah berusaha mengambil nyawa bumi. Namun bumi tak terima. Dan inilah
kenyataannya.
Sang Kuasa
melabuhkan kemalangan pada tujuh milyar manusia. Hukuman yang pantas bagi
pembunuh bumi yang licik, kata-Nya. Sudah waktunya para manusia istirahat dari
menghunuskan ambisi yang membunuh diri mereka sendiri, pada akhirnya. Tahun ini
biarkanlah menjadi tahun yang hitam. Biarlah manusia mencipta hikmah dari
hukuman-Nya yang pedih.
Sedu sedan masih
Awan rasakan. Seolah kegairahan untuk hidup telah mati. Saat itu, di hari
ketujuh ketika mental dan hati Awan dirasa telah siap menghadap Bapak untuk
mengakhiri perselisihan yang kekal itu, ternyata Tuhan bermaksud menyiapkan
mental dan hati Awan untuk kepergian Bapak yang selama-lamanya. Tanpa salam
pamit. Tanpa ucap maaf dari Awan, anak perempuan Bapak. Awan sayang Bapak.
*
Tags
story
