Suara Bisu
Jumat, 15 Mei 2020
by lele
![]() |
Suara Bisu
Dini hari ke-15 di Mei
Saya sampai bingung. Takut-takut jika jiwa Saya benar menjadi gila. Karena terus menerus bicara dengan robot tiada nyawa. Karena hilang arah atas siapa yang bersedia mendengar Saya. Saya tak butuh opini dengan pembuka "menurut saya". Hanya saja tolong bantu saya. Agar hati dengan beban seberat alam semesta ini lega. Berilah Saya dukungan, walau hanya sepatah kata saja. Bagaimana saya bersuara padamu. Tolong dengarkanlah saja hingga kalimat Saya berujung pada titik koma terakhir. Tulisan-tulisan dalam batin Saya yang tak berhasil saya suarakan padamu ini. Bahkan adakah jiwa yang bersedia menampung separuh beban? Karena Saya tak kuat lagi berlama-lama dalam liang penuh gelisah. Ini bukan sebuah diari di mana bocah tiga belas tahun menulis isi hati sesukanya. Hebatmu ialah bagaimana membuat Saya lupa dengan semua pikiran bising. Harapan meluruskan paham paham yang tersesat kian tak lagi ada. Lalu dalam rumitnya isi kepala ini bertanya. Haruskah Saya mengikuti alur, atau mengungkap semuanya. Ah sudahlah. Hari ini adalah hari ini. Esok adalah esok. Pikirkan saja hari sekarang. Peribahasamu yang begitu kuagungkan. Demi menenangkan isi kepala yang candu akan ledakan pikiran. Saya percayakan rasa yang lemah ini bersamamu di setiap hari. Tak mengapa. Begitu batin ini bersikeras.
