Eksentrik dan Gila. Pastikan Kamu Tidak Gila!
Rabu, 20 Mei 2020
by lele
![]() |
| Yayoi Kusama's signature polka dots are on view at David Zwirner for her highly anticipated New York return |
![]() |
| The complete Vivienne Westwood Fall 2012 Ready-to-Wear fashion show now on Vogue Runway. |
Belakangan ini saya terinspirasi oleh sebuah kiriman dari akun Instagram pameran jurusan saya yang di kirim oleh kating saya. Mengenai "Antara Nyentrik dan Gila". Awalnya hanya sebatas "oh ya sudah", namun banyak kepingan memori mengusik pikiran saya mengenai orang yang disebut gila oleh masyarakat pada masa yang telah lalu. Di saat sedang tidak melakukan apa-apa pun, saya jadi semakin memikirkan dua kata ini.
Memang semakin dipikir semakin betul, bahwa kata nyentrik memang tidak jauh berbeda dengan gila. Main-main analisis bak seorang dosen dan ahli, saya memiliki asumsi mengenai mengapa terkadang orang yang penuh nyentrik atau eksentrik ini disebut gila oleh masyarakat 'normal'. Ialah disebabkan karena individu seolah telah diatur dengan sistem baku yang sama antar individu lain. Sehingga ketika muncul individu dengan karakter nyentrik ini, individu yang selalu bekerja pada gerak roda yang monoton akan menyebut mereka dengan sebutan; bisa aneh, keren, sangar, atau bahkan gila. Katakan unsur eksentrik ini melekat pada tampilan. Sebetulnya tidak hanya tampilan yang bisa eksentrik. Tapi pola pikir juga bisa eksentrik. Tapi ingat, pola pikir radikal dengan eksentrik tentu berbeda. Menurut saya pola pikir eksentrik ialah pola pikir yang tidak biasa dibandingkan dengan pola pikir yang dimiliki oleh suatu individu. Menurut saya hal seperti ini bisa dibilang pola pikir yang kreatif atau out of the box.
Yah, perihal tampilan yang eksentrik seringkali terjadi pada banyak remaja. Berdasarkan asumsi saya, remaja sangat suka melakukan eksperimen pada dirinya terkait dengan jati diri yang masih belum tampak. Sehingga tak hanya bereksperimen pada tampilan saja, remaja juga melakukan eksperimentasi pada perilaku-perilaku berisiko. Yang saya maksud dengan perilaku berisiko di sini ialah hal yang dapat dikatakan berbahaya bagi seorang remaja, seperti minuman beralkohol dan narkoba.
Lalu sebetulnya apa arti dari kata 'eksentrik' itu sendiri? Menurut KBBI, eksentrik ialah aneh, ganjil, atau tidak wajar. Saya menemukan artikel menarik dari sebuah majalah, yaitu Majalah Tempo edisi 2 April 1988. Majalah ini mengambil tokoh Bob Sadino dan Affandi.
![]() |
| Affandi |
Mereka adalah dua dari jutaan orang eksentrik yang tak peduli dan tak terpengaruh oleh pendapat orang lain. Dikatakan bahwa ilmu jiwa yang ada pada abad ke-19 mengkategorikan pelaku eksentrik sebagai tanda-tanda adanya problem kejiwaan. Suka menyendiri, keras kepala, berkelakuan aneh, dan sulit berkomunikasi adalah ciri-ciri orang eksentrik. Saya membaca banyak sumber yang mengatakan bahwa gejala eksentrik tidak jauh dengan kelainan jiwa schizophrenia. Dalam artikel majalah ini, seorang psikolog Inggris Dr. David Weeks mengatakan bahwa eksentrik atau perilaku gila-gilaan ini sama sekali tak bisa dikategorikan sebagai gejala sakit jiwa, dan ia mengatakan bahwa orang-orang eksentrik ialah orang-orang yang normal. Hanya saja jenisnya bisa sangat aneh. Ada yang nyata dan ada juga yang sangat aneh. Orang-orang yang suka mengoleksi benda-benda tak lazim seperti, misal peti mati dan meminta tiap orang untuk mencobanya. Saya menemukan sebuah jurnal psikologi dari UNAIR oleh Myra Edwina Sukamto yang erat kaitannya dengan perihal eksentrik ini. Mari kita simak salah satu paragraf di bawah.
Dalam jurnal berjudul Schizotypal Personality Disorder ini, kepribadian skizotipal ini dicirikan dengan ideas of reference, kepercayaan aneh atau pemikiran magis yang mempengaruhi perilaku dan tidak sesuai dengan norma-norma kebudayaan, pengalaman persepsi yang tidak biasa, pemikiran dan pembicaraan yang aneh (samar-samar, situasional, metafora, sangat terinci atau ruwet), kecurigaan, afek yang tidak tepat, perilaku atau penamilan yang aneh/ eksentrik/ ganjil, kurangnya teman dekat, dan kecemasan sosial berlebih.
Dengan demikian, menurut saya kesimpulan dari sumber-sumber di atas ialah bahwa eksentrik tidak hanya dilihat pada tampilan dan pola pikir saja. Tapi juga perilaku yang membuat individu eksentrik ini tampak berbeda dibandingkan individu pada umumnya.
Saya menjadi teringat dengan seorang kakek tua pada usia saya yang masih belum genap sepuluh tahun. Saya masih ingat betul bagaimana ia berkeliaran di seisi kota dengan tampilannya yang 'too much'. Maksud berlebihan di sini ialah ia berseragam ala veteran Indonesia lengkap dengan kacamata hitam dan kopyah. Rambutnya sudah memutih seutuhnya, bahkan janggutnya. Yang lebih mengherankan siapa saja yang menyaksikan, tiap hari kakek ini tiada absen membawa sejenis tongkat dengan berbagai jenis barang yang digantung pada tongkat. Yang paling saya ingat ialah spion yang menggantung pada tongkatnya. Oh ya, tak lupa dengan tulisan yang saya sudah lupa apa isinya. Tulisan tersebut tidak pula absen dari barang bawaanya tiap hari. Ditulis dengan cat merah di atas kertas putih. Tiap kali saya pulang sekolah, saya pasti lihat kakek ini nangkring atau berdiri di depan tempat penyeberangan jalan. Atau kalau tidak di sekitar pusat perbelanjaan kota. Awalnya saya sama sekali tak paham dengan apa yang kakek itu lakukan. Saya tak pernah menganggap Beliau gila karena saya benar-benar penasaran dengan apa yang kakek itu lakukan. Saya masih ingat betul jawaban orang-orang tiap kali saya bertanya sedang apakah kakek itu, dan mengapa pakaiannya seperti itu. Jawaban mereka selalu sama, "itu orang gila".
Sekarang saya kembali penasaran pada kakek itu mengingat semenjak saya lulus sekolah dasar, Beliau sudah tak pernah tampak di tempat-tempat biasa Beliau bersanggar. Saya benar-benar ingin tahu apakah Beliau masih hidup sehat dengan tampilan eksentriknya atau sudah kembali pada tanah bumi yang sedang saya pijak ini.
Yah, itulah beberapa paragraf yang telah saya tuangkan dari isi kepala saya selama program overthinking selama tujuh malam ini. Correct me if I'm wrong! See you!
https://kbbi.web.id/eksentrik
Sukamto, M. E. (n.d.). SCHIZOTYPAL PERSONALITY DISORDER.
Fitriyah, L. (2016). Eksperimentasi Sebagai Pintu Perilaku Beresiko Pada Remaja.
Supangkat, J., Soejoatmodjo, Y., & Lugito, H. (1988, April 2). Gila-Gilaan Bukan Gila. Tempo. Retrieved from tempo.co


