Englightening About Sex Ed

Kamis, 11 Juni 2020 by lele

Membicarakan seks sebagai diskusi kasual seringkali masih dihindari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan sebetulnya kita tak perlu jauh-jauh membahas sebagian besar masyarakat negara kita, sebagian besar orang tua pun seringkali malu apabila seorang anak bertanya perihal seks. Menurut Saya pribadi, memberikan pendidikan seks bukan berarti mengajarkan bagaimana kita melakukan seks maupun mendukung seks bebas. Tujuan pendidikan seks ialah agar kita terhindar dari segala bentuk pelecehan seksual. Tak hanya untuk menghindari pelecehan seksual, pendidikan seks juga bertujuan untuk mengetahui apa fungsi organ-organ yang manusia miliki. Pendidikan seks tak hanya bertujuan untuk pengetahuan biologi maupun untuk menghindari pelecehan seksual. Pendidikan seks juga mengajarkan moral kepada siapa saja. Seperti bagaimana apabila ada seseorang yang hendak mencium, atau kepada siapa saja kita boleh memperlihatkan organ intim kita, atau sekadar kepada siapa kita boleh membuka baju.

Kalimat ini tentu sangatlah klise, “obrolan seks masih tabu”. Yah, di tulisan kali ini Saya pun akan mengulang kalimat klise tersebut karena keadaan tabu yang terkandung di dalamnya sangatlah betul adanya. Cobalah Anda mendiskusikan perihal seks bersama teman Anda. Sebagian besar yang belum sadar bahwa pendidikan seks itu penting akan memiliki tanggapan sejenis “bokep banget sih”. Kita tak perlu malu menyebut vagina atau penis dan tak perlu mengistilahkan vagina dan penis dengan sebutan burung, apem, joni, kemem, dan lain sebagainya. Pertanyaan seperti dari mana bayi berasal, apa fungsi vagina dan penis, apa itu kondom, apa itu keperawanan, dan sejenisnya tak semestinya dianggap pertanyaan ‘terlarang’. Anak cenderung memiliki rasa penasaran yang tinggi, dan kita tak perlu malu menjawabnya.

Menyinggung tentang keperawanan, menurut Saya Indonesia masih berada pada standar yang ironis. Bagaimana tidak? Sebagian besar masyarakat masih menganggap keperawanan adalah segala-galanya. Padahal ada banyak value atau nilai yang bisa dihargai dari seseorang. Seperti kecerdasan, kemampuan, dan usaha. Kehormatan seseorang tak dapat diukur dari keperawanan. Obrolan mengenai keperawanan kerap kali dijadikan bahan candaan. Padahal secara tidak langsung obrolan tersebut akan membuat seseorang melihat keperawanan sebagai tolak ukur.