Englightening About Sex Ed
Membicarakan seks sebagai diskusi kasual seringkali masih dihindari
oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan sebetulnya kita tak perlu
jauh-jauh membahas sebagian besar masyarakat negara kita, sebagian besar orang
tua pun seringkali malu apabila seorang anak bertanya perihal seks. Menurut
Saya pribadi, memberikan pendidikan seks bukan berarti mengajarkan bagaimana
kita melakukan seks maupun mendukung seks bebas. Tujuan pendidikan seks ialah
agar kita terhindar dari segala bentuk pelecehan seksual. Tak hanya untuk
menghindari pelecehan seksual, pendidikan seks juga bertujuan untuk mengetahui
apa fungsi organ-organ yang manusia miliki. Pendidikan seks tak hanya bertujuan
untuk pengetahuan biologi maupun untuk menghindari pelecehan seksual.
Pendidikan seks juga mengajarkan moral kepada siapa saja. Seperti bagaimana
apabila ada seseorang yang hendak mencium, atau kepada siapa saja kita boleh
memperlihatkan organ intim kita, atau sekadar kepada siapa kita boleh membuka
baju.
Kalimat ini tentu sangatlah klise, “obrolan seks masih tabu”.
Yah, di tulisan kali ini Saya pun akan mengulang kalimat klise tersebut karena
keadaan tabu yang terkandung di dalamnya sangatlah betul adanya. Cobalah Anda
mendiskusikan perihal seks bersama teman Anda. Sebagian besar yang belum sadar
bahwa pendidikan seks itu penting akan memiliki tanggapan sejenis “bokep banget
sih”. Kita tak perlu malu menyebut vagina atau penis dan tak
perlu mengistilahkan vagina dan penis dengan sebutan burung,
apem, joni, kemem, dan lain sebagainya. Pertanyaan seperti dari mana bayi
berasal, apa fungsi vagina dan penis, apa itu kondom, apa itu
keperawanan, dan sejenisnya tak semestinya dianggap pertanyaan ‘terlarang’.
Anak cenderung memiliki rasa penasaran yang tinggi, dan kita tak perlu malu
menjawabnya.
Menyinggung tentang keperawanan, menurut Saya Indonesia
masih berada pada standar yang ironis. Bagaimana tidak? Sebagian besar
masyarakat masih menganggap keperawanan adalah segala-galanya. Padahal ada
banyak value atau nilai yang bisa dihargai dari seseorang. Seperti
kecerdasan, kemampuan, dan usaha. Kehormatan seseorang tak dapat diukur dari
keperawanan. Obrolan mengenai keperawanan kerap kali dijadikan bahan candaan.
Padahal secara tidak langsung obrolan tersebut akan membuat seseorang melihat
keperawanan sebagai tolak ukur.