Saya Benci Tim PubDekDok! | Kegemasan Tentang Praktik Kerja Penyelenggaraan Pameran

Sabtu, 29 April 2023 by lele
Ada pola baru di kepala Saya yang telah Saya pahami sedikit demi sedikit. Ketika rekan-rekan mengunjungi sebuah art event (pameran seni apalagi seni rupa) lokal; mereka tampak bahagia, memuji satu sama lain, basa-basi bagaimana satu sama lain berproses dalam dunia kreatif, atau foto di depan karya dan tidak lupa untuk absen di Instagram story dan feed dengan tagging sang pembuat karya. Makanan dan minuman disediakan. Ada keripik balado, jajan tai kucing, makaroni pedas, dan air mineral gelas. Semuanya gratis, untuk Anda yang datang pada acara tersebut. Kira-kira begini suasananya:

Dokumentasi oleh Disbudprorapar

Dokumentasi pribadi

Dokumentasi oleh InfoPublik.id


Saya rasa tak mungkin bilamana ada seorang mahasiswa ataupun pelaku seni yang tak merasakan suasana pada gambar-gambar di atas. Jika tidak sebagai penyelenggara, setidaknya pernah menjadi partisipan maupun sekadar pengunjung. Semua tampak senang, haha hihi, dan menikmatinya.

Namun ada banyak sekali hal yang telah Saya perhatikan dalam proses belajar Saya semenjak masuk dunia perkuliahan ini. Daripada membaca banyak paragraf yang nantinya jadi ngalor ngidul, Saya buat dalam bentuk poin-poin seperti ini:

1. Pameran = Reuni

Tak mungkin juga terjun ke dalam seni rupa tapi tidak pernah mengikuti pameran. Menjadi partisipan, menjadi penyelenggara acara, atau datang ke pameran. Saya berani bilang, semua pasti pernah! Fenomena yang Saya highlight dalam poin pertama ini ialah penyelenggaran pameran. Berdasarkan pengalaman Saya, proses pertama belajar dari fenomena ini adalah di dalam lingkup kampus. Tiap jurusan seni rupa pasti memiliki pameran tersendiri yang membawa nama kampus. Contohnya, ada Guyub Rupa dari UNNES, Pesta Seni dari UNM, UNKARUPA dan Sengkuni dari UNESA, Rewind Art dari UNJ, dan masih banyak lagi dari luar pulau Jawa pula. Bagi Saya pribadi ini menarik karena dari pameran-pameran seni rupa inilah Saya banyak belajar dari 0. Yang telah Saya amati selama ini, Saya menyimpulkan pameran-pameran tersebut ialah ajang reuni keluarga seni rupa dari seluruh daerah. Tak hanya menjadi acara reuni, acara ini tentu menjadi media penggelora eksistensi kampus dan juga jurusan atau prodinya masing-masing. Mengapa Saya sebut ajang reuni? Ya karena bagi Saya, seperti yang Saya sebutkan di paragraf awal:

 

Ketika rekan-rekan mengunjungi sebuah art event kota; mereka tampak bahagia, memuji satu sama lain, basa-basi bagaimana satu sama lain berproses dalam dunia kreatif, atau foto di depan karya dan tidak lupa untuk absen di Instagram story dan feed dengan tagging sang pembuat karya. Makanan dan minuman disediakan. Ada keripik balado, jajan tai kucing, makaroni pedas, dan air mineral gelas.

 

Dari pameran-pameran tersebutlah jaringan-jaringan koneksi bertumbuh. "Oh, ini karyamu?", "Wih, keren ini karyamu!", "Nanti dateng ya ke pameran kampusku...", dan berbagai obrolan-obrolan lainnya. Kau datang ke acaraku, aku datang ke acaramu. Begitulah kira-kira. Bagi Saya pribadi, pameran-pameran dalam jaringan kampus ini menjadi awal penghubung dari segalanya.


 

2. Tradisi yang Tak Terbantahkan

Fenomena kedua yang Saya amati, ada banyak pakem-pakem dalam sistem kerja penyelenggaraan pameran kampus yang seringkali tak bisa dibantah ketika dirasa kurang efisien. Tak hanya sistem kerja, hal sederhana seperti nama pameran pun juga begitu sakralnya sehingga seolah tak dapat diganggu gugat untuk diubah, walaupun sudah terasa tak selaras dengan perkembangan zaman. Belajar dan berproses dalam pengalaman ini memang sangat bagus, hanya saja Saya menyadari banyak sekali kebobrokan yang seharusnya diubah demi masa depan event pameran yang lebih profesional walaupun dalam lingkup kampus. Berikut beberapa contoh kebobrokan yang Saya temui:

 

● Struktur Tim yang Tidak Nyambung 

Lucu ketika Saya tergugah pada saat mengerjakan pameran kampus dan mendapati cara kerja yang sangat tidak sinkron. Pada akhirnya, Saya menyarankan rekan-rekan sebuah struktur yang lebih efisien dan berkesinambungan namun sayangnya ditolak karena pada saat itu menurut mereka mengikuti tradisi yang telah ada itu lebih baik. Dan pada dasarnya saran yang saya usulkan tidak sembarangan Saya lempar karena jujur saja, pada saat itu Saya beruntung karena mendapatkan pengalaman yang berharga dari dunia kerja bidang kreatif yang telah saya terjuni semenjak semester awal, sehingga Saya menawarkan sebuah cara yang lebih rapi, efisien, dan profesional pada rekan-rekan supaya tidak boros waktu. Berikut tradisi struktur tim yang menurut Saya salah dan sangat tidak cocok dengan perkembangan zaman ini: 

 

◌ Tim PubDekDok  
Ya, siapa yang tidak tahu sih dengan tim gabungan ini? Publikasi, dekorasi, dan dokumentasi. Menurut Saya ini SANGAT TIDAK NYAMBUNG dan Saya betul-betul gemas dengan rekan-rekan kampus yang masih menggunakan struktur tim gabungan ini. Pada dasarnya, publikasi yang memiliki deskripsi kerja; mempublikasikan segala informasi acara pada audiens, mengumpulkan calon pengunjung, menciptakan tulisan-tulisan yang membangun audiens, dan mengatur periklanan (sebetulnya bagian publikasi ini sangat mirip dengan tim marketing) ini sering disalah pahami sebagai bagian bagi-bagi poster. Padahal, tugas publikasi ini spesifik dan tidak sekadar bagi-bagi poster atau bikin kampanye. Publikasi memegang kunci penting dalam berhasilnya sebuah acara, yakni tersampaikannya informasi acara ke khalayak umum dan ini tentu harus diteliti dan disepakati lagi mengenai target audiens dari acara. 

 

Lalu ada bagian dokumentasi. Bagian ini seharusnya menjadi bagian yang bekerja sama dengan tim kreatif (yang mana tim kreatif ini merupakan tim desain dan terkadang juga mengolah video, namun masih sering tergabung dalam PubDekDok, padahal tim ini memiliki deskripsi kerja yang spesifik pula). Namun bagian dokumentasi ini masih sering disalahpahami bahwa kerjanya adalah merekam dan mengolah saja. Padahal, pekerjaan tersebut perlu diiringi oleh bagian publikasi karena video ataupun gambar yang dihasilkan nantinya akan ditonton oleh khalayak umum sehingga hal ini menyangkut audiens.

Selanjutnya ada bagian dekorasi. Ini yang paling tidak nyambung! Saya paham bahwa maksud dari bagian ini ialah menciptakan segala gambar maupun dekorasi lapangan yang dibutuhkan pada acara pameran. Namun bagi Saya pribadi, dekorasi tak bisa dijadikan satu dengan personil-personil yang menciptakan poster, banner, ataupun feed Instagram karena deskripsi kerja antara pencipta segala kebutuhan poster dan pendekor acara sangatlah bertolak belakang. Perlu digaris bawahi bahwa dekorasi bekerja di lapangan dan pembuat poster bekerja di balik layar.

 

Saya seringkali kepingin marah sampai kayang bilamana masih mendapati praktik kerja yang seperti ini, padahal sudah tidak zaman! Lebay, tapi Saya bercita-cita tidak ingin melanjutkan tradisi struktur kerja yang lemot seperti itu. Sehingga, bagi Saya struktur kerja yang seharusnya cocok dan efisien dengan penyelenggaraan pameran seni rupa ialah:

Divisi Marketing, yang terdiri dari tim desain, tim publikasi, dan juga tim dokumentasi. Dan divisi ini HARAM HUKUMNYA bila dihubungkan dengan DEKORASI karena nggak nyambung, cok.

 

Hal ini sebetulnya sangat mendasar. Tim dekorasi bukanlah nama yang tepat. Pada bagian penanganan karya dalam pameran seni rupa, seharusnya nama yang tepat ialah art handling. Sedangkan orang yang menangani bagian ini disebut dengan art handler. Art handling pun akan dibagi lagi menjadi beberapa bagian seperti display, packing, unpacking, ataupun assembling yang disesuaikan dengan kebutuhan. Tim ini juga merupakan bagian yang vital dan krusial, sebab icon utama dari acara ini ialah karya-karya itu sendiri. Dan penanganan karya perlu perhatian yang tidak main-main. Proses produksi pameran ini tidak seperti mendekorasi panggung pentas seni pada umumnya. Namun, pendataan karya, proses display, unpacking, dan packing memerlukan kerja sistematis. Kebutuhan seperti sketsel (sekat/ partisi), instalasi, maupun hiasan-hiasan kecil termasuk ke dalam bagian proses produksi pameran. Maka dari itu, Saya merasa bahwa sebutan "tim dekorasi" atau bahkan "tim pengkaryaan" sangatlah tidak cocok dan Saya pun tidak tahu-menahu darimana trend ini bermula pada perpameranan seni rupa ini. Padahal, hal itu merupakan hal paling dasar yang wajib diketahui oleh tiap pelaku seni.

 

3. Pameran Kampus Emang Harus?

Lagi-lagi soal tradisi. Tiap individu tentu kompleks dan kerap kali terjadi perdebatan antara harus melanjutkan "pameran warisan" atau tidak. Yang sering Saya dengar dalam diskusi-diskusi adalah dosa hukumnya jikalau tidak melanjutkan tradisi yang telah diciptakan oleh pendahulu. Jelas-jelas akan dianggap anak haram dan generasi gagal. Di samping amukan-amukan tersebut, Saya berpikir bahwa tradisi atau mengikuti perkembangan zaman itu relatif. Sehingga tradisi seperti pameran kampus yang turun temurun pun bagi Saya sebetulnya ya relatif. Tidak wajib. Tidak harus bertradisi. Mengikuti perkembangan yang muncul? Why not? Menciptakan hal baru? Why not? Berpikir beyond memang kerap kali memicu perdebatan semua orang karena ya..., dulu pun Thomas Alva Edison dimaki dan dicap tahayul karena menciptakan fonograf pertama. Tapi pada akhirnya Thomas pun dipuja-puja karena penemuannya hingga kini, kan? Jadi ya tahu sendiri, toh?

Sama halnya dengan warisan pameran. Dipikir sekilas memang sayang apabila tak dilanjutkan. Tapi bagi Saya, produktif tak progresif pun boros waktu. Waktu itu penting banget. Bukan sekadar time is money, but time offers you a moment once not twice. Kalau bisa membuat pameran atau art event di luar kampus dan mampu menggaet berbagai kalangan, isn't that great? Menurut Saya itu lebih keren. Selain itu, kritik bisa jadi senjata, namun bisa juga jadi peluru bagi siapapun sehingga lapisi mental kuat-kuat untuk mendengarnya karena tanpa ditempa kritik kita tidak akan mempunyai mental baja.  


4. Where Do We Learn and Practice This Exhibition Thingy Though?

Saya cukup kecewa ketika mendengar kabar bahwa mata kuliah publikasi karya dihapus. Padahal, mata kuliah dalam jurusan Saya itulah yang paling Saya tunggu. Walaupun tak setuju dengan statement bahwa warisan pameran itu wajib dilanjut, tapi Saya menunggu-nunggu kepusingan dan hectic moments bersama rekan-rekan satu kelas dalam penyelenggaraan pameran. Tapi yasudin, bikin acara di luar kampus pun lebih menarik.

 

Bagi Saya pribadi, mata kuliah ini krusial (tentu harus dengan tenaga pendidik yang skillful pula) karena seni rupa sangatlah erat dengan pameran bagai kulit dan daging. Karena dari pameran ini, kita mampu memahami sistematis transaksi jual beli karya, eksistensi, maupun sistem penyelenggaraan yang baik. Seni rupa tak ayal dengan penciptaan karya (you don't say, ya iyalah). Namun apakah hanya membuat karya lalu pajang di tembok? Di ruang tamu? Di studio? Ya jelas tidak. Yang Saya simpulkan dari banyak pengamatan-pengamatan kecil, seni rupa tidak eksistensi itu tidak seru. Dan sikut-menyikut yang kejam pun telah menjadi rahasia umum. Dan bagaimana cara mendapatkan eksistensi ini? Salah satunya dari pameran. Saya sempat bertanya-tanya, bila memang mahasiswa seni rupa sering membuat pameran, kenapa pada kelas formal sangat jarang perbincangan tentang sistematis pameran dan bahkan mata kuliah tersebut dihapus? Sehingga untuk sementara ini, simpulan Saya adalah penyelenggaran pameran seni rupa seringkali hanya bisa dipelajari melalui trial and error oleh para pelakunya itu sendiri. Dan tidak semua harus menjadi penyelenggara. Tidak semua harus menjadi seniman. Tidak semua harus menjadi kurator. Dan tidak semua harus menjadi kolektor.


Kesimpulannya, keresahan ini Saya tulis berdasarkan apa yang telah Saya alami dan Saya selalu meng-semoga-kan struktur kerja penyelenggaraan pameran seni rupa supaya lebih maju dan semakin efisien. Tradisi tak harus selalu menjadi tradisi. Perkembangan akan terus terjadi dan banyak sekali hal-hal baru yang bisa didalami. Saran dan kritik pedas Saya terima lebar-lebar. Kalau bisa kritik yang kejam tapi membangun ya, hihi. Supaya Saya tau seberapa kuat Saya berdiri setelah dihujam banyak kritik.

Tags opinion story