People Look At Me, So Do the Catcalls
Sabtu, 31 Agustus 2024
by lele
Warm Eyes (2024)
-
Nyatanya, sekuat apapun diri ini menahan berbagai catcall,
lama-lama bisa bergidik ngeri juga. Beberapa waktu lalu ketika saya duduk di
atas motor menunggu teman yang sedang mengambil uang di ATM minimarket, seorang
ogah penuh tato di sekujur tubuhnya berteriak kepada saya. Menanyakan berbagai
macam pertanyaan seperti lagi apa, lagi tunggu siapa, dan kuliah atau kerja. Di
tengah kesibukannya mengatur pertigaan yang cukup padat sore itu, sembari
berteriak. Jelas hal itu menyita perhatian banyak pengendara yang lewat. Berdasarkan
pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya mengerti pola-pola perilaku yang ogah
itu sedang lakukan, yang tak lain ialah berusaha menggoda saya yang saat itu lagi
sendirian di pinggir jalan. Biasanya saya tak banyak mengambil hati dan pusing
memikirkan gangguan-gangguan semacam itu. Namun karena dalam dua bulan kemarin
saya telah mengalami kejadian menganggu tersebut secara berturut-turut, alhasil
kejadian di pinggir jalan itu membuat saya cukup panik. Ogah tersebut masih meribeti
dengan berbagai pertanyaan yang saya dengar tak cukup jelas. Semakin cemas,
saya berulang kali menoleh ke arah ATM dan berharap teman saya cepat selesai. Setelah
selesai dan menarik tunai uangnya, teman saya Kembali ke motor dan menangkap
ekspresi panik saya.
Sambil membaca situasi ia menyalakan motor dan mulai melesat, kemudian di depan muka si ogah ia menyolot, “Kon biasa ndek kene? Lain kali cangkemmu jogoen lek ngomong” (“Kamu biasa disini? Lain kali jaga mulutmu kalau ngomong”). Saya makin panik, mengingat teman saya memiliki rekam jejak mental yang kurang bagus dan anger issue yang dimilikinya kerap kali membuatnya masuk penjara hanya karena sebiji perkara, dan jelas tingkah si ogah membuat teman saya ingin memukulinya sampai mati. Dari kejauhan, si ogah masih saja meneriaki saya dan kini ia berusaha memancing teman saya yang mulai panas hingga ia menghentikan laju motor lalu bersiap memukul si ogah. Sontak saya dinginkan kepala teman saya yang sudah mau meledak itu dengan bilang, “Nevermind, that’s okay. Sabar, mas. Ayo balik!”.
-
Saya pikir saya tak masalah dengan kejadian barusan. Namun selain karena kebanyakan ngopi hari itu, jantung saya masih saja dag dig dug kencang karena panik. Jujur saja, semenantang apapun kepribadian saya, diganggu seperti itu terus-menerus pun ternyata bisa membikin saya ciut. Ditambah dengan teman saya tadi yang disenggol sedikit saja bisa jadi si ogah sudah masuk rumah sakit dan membuat laporan polisi atau, bisa saja mereka sudah saling bogem di tengah jalan sampai mati salah satu.
Tindakan menggoda, catcall, menganggu, menguntit, dan sebagainya memang bukan sesuatu yang bisa dibenarkan, apalagi dinormalisasikan. Terlepas dari gender dan usia, penampilan sekalipun. Saya setuju bila pelaku-pelaku seperti si ogah itu memang terkadang harus diberi pelajaran. Setiap orang memang bisa tinggal memilih mau menganggapi bagaimana, baik secara negatif atau positif. Sayangnya, tak semua orang mampu menangani kejadian itu karena berbagai faktor. Bisa karena memang takut, trauma, pemalu, atau alasan lainnya. Ya bisa saja saya atau orang lain menganggapnya sebagai pujian dan membalasnya dengan kata “terima kasih” karena digoda dengan omongan “Cantik banget, mbak. Mau kemana?”. Tapi bagi pelaku, akan sejauh apa mereka melancarkan aksinya tersebut? Bisa jadi setelah itu saya akan dikuntit sampai pulang selepas merespon godaan tersebut dengan ramah. Dibandingkan meladeni seperti itu, saya lebih memilih diam atau bila perlu lemparkan saja sumpah serapah. Dalam kondisi stressful karena pekerjaan, buat saya melemparkan sumpah serapah bisa menjadi terapi untuk mengeluarkan aura negatif.
Paparan terus-menerus terhadap perilaku negatif jelas dapat meningkatkan risiko berkembangnya gangguan kesehatan mental seperti depresi. Stres yang berkepanjangan akibat paparan negatif dapat berkontribusi pada gangguan mood dan kesehatan mental yang lebih serius. Kesehatan fisik dan mental buruk, akibatnya penanganan stress akan memburuk pula. Saya memikirkan, catcall dapat menyebabkan peningkatan kecemasan dan stres pada korban dan ini terbukti secara ilmiah, seperti yang disebut Gordon et al. (2018) dalam Journal of Interpersonal Violence menunjukkan bahwa wanita yang sering mengalami pelecehan verbal di ruang publik melaporkan tingkat kecemasan dan stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami pelecehan. Studi ini menemukan bahwa pengalaman pelecehan verbal dapat menyebabkan perasaan cemas dan ketidaknyamanan yang berkepanjangan. Bila tindakan seperti itu saja mampu menyebabakan perasaan cemas apalagi hingga panic attack, bisa dibayangkan dampaknya jika korban konstan mengalami pelecehan fisik. Dampaknya mampu mempengaruhi banyak hal, seperti dalam mengambil keputusan, saat di ruang publik, cara berpikir, atau kebiasaan.
Apalagi sebelum kejadian si ogah kemarin, saya mengalami beberapa hal yang kurang enak. Seperti saat sedang jalan kaki menuju TP pagi bersama teman saya, lalu digoda gerombolan lelaki yang sedang membersihkan bus pariwisata dan berakhir saya sumpahi “ANCOK RAIMU!” karena sangat menganggu. Atau tatapan mengintimidasi dari seorang kuli proyek yang bukannya ia fokus mengaduk semen, malah asyik menonton saya yang sedang duduk. Lagi-lagi terapi umpatan seperti “Gaktau ndelok wedhok ta? Picek motomu!” (“Gak pernah lihat perempuan? Buta matamu, ya!”) saya berikan pada kuli tersebut hingga sukses membuatnya panik dan kembali bekerja. Dan berbagai hal tak mengenakkan lainnya. Siapa yang tidak keder bila terus mengalami hal tersebut?
Kembali fokus pada tindakan catcall, Journal of Social and Personal Relationships yang ditulis oleh Geoff MacDonald pada 2015 ini membuktikan bahwa tindakan ini sering kali dipengaruhi oleh dinamika sosial dan kekuasaan, bukan penampilan korban saja. Wanita yang dianggap menarik secara fisik lebih sering mengalami catcall dibandingkan dengan wanita yang dianggap kurang menarik. Penampilan yang dianggap menarik bisa membuat seseorang lebih menjadi sasaran gangguan verbal karena penilaian berdasarkan estetika sosial. Walau memang di beberapa lingkungan, perilaku seperti catcall mungkin lebih umum atau dianggap lebih dapat diterima, tapi bukan berarti penampilan korban adalah faktor utama. Catcall kerap didorong oleh kebutuhan untuk menegaskan dominasi sosial atau mendapatkan perhatian dari kelompok sebaya, juga berhubungan dengan kebutuhan untuk menunjukkan kekuasaan atau status sosial, bukan hanya dengan penampilan fisik korban. Pelaku mungkin menggunakan catcall sebagai cara untuk mengontrol atau menguji batasan sosial.
Tingkah si ogah kemarin mungkin bisa saja saya terima bila ia menunjukkan sikap yang lebih santun dengan tidak berteriak hingga menarik perhatian tiap pengendara yang melintas. Atau dengan mendekat, bertanya ada keperluan apa berhubung saya berhenti di pinggir jalan depan sebuah rumah ujung jalan. Apalagi badan si ogah tersebut dipenuhi tato, yang mana di wilayah saya tinggal sebagian besar pria bertato adalah kriminal. Terkecuali teman-teman saya yang bertato dan bergaya menyeramkan karena mereka sudah saya kenal dengan baik. Jika situasinya tidak kenal dan bertemu di tengah jalan seperti itu, wajar saja jika saya lebih hati-hati. Sayangnya lagi, saya dihadapkan kenyataan bahwa tak semua orang memahami bagaimana attitude dan sopan santun yang baik. Jadi di situasi saya yang masih panik karena kejadian kemarin ini, yang bisa saya lakukan hanya manifestasi diri untuk terus melakukan hal positif dan sesekali mencoba melampiaskan aura negatif yang saya terima dengan olahraga kickboxing dan karaoke musik punk ala Misfits atau Fugazi.
Ada beberapa komentar dan pernyataan yang saya dengar bahwa kasus yang terjadi akan berbeda jika si pelaku memiliki fisik rupawan. Namun hal ini tidak berlaku di saya dan sangat tidak benar adanya. Catcall dan pelecehan verbal memiliki dampak signifikan terhadap kondisi psikologis, meningkatkan kecemasan dan stres yang dapat berkembang akut menjadi gangguan mental serius seperti depresi. Ada banyak penelitian maupun jurnal ilmiah yang mampu dicari secara mandiri untuk membuktikan hal ini. Dan saya tekankan sekali lagi, bahwa perilaku tersebut tidak hanya didorong oleh penampilan fisik maupun gender, tetapi juga oleh dinamika sosial dan kebutuhan pelaku dalam menegaskan dominasi atau status yang artinya dari diri pelaku itu sendiri. Pemahaman akan faktor-faktor ini penting untuk mengurangi dampak negatif catcalling dan mendorong interaksi yang lebih santun dan menghormati batasan sosial.
