Keluhan Soal Masa Depan Bangsa Dari Generasi ke Generasi. Ikuti, atau Terus Protes?

Minggu, 09 Juni 2024 by lele

-

 

Dalam dua tahun terakhir, semakin banyak dan mudah ditemui konten media sosial, artikel, maupun opini yang menyatakan keresahan soal karakter alot dan manja generasi Z yang tak lain merupakan kelahiran tahun 1996an - 2010an. Utamanya karakter generasi ini dalam dunia pekerjaan yang disebut-sebut "terlalu lunak" karena berbagai alasan seperti prioritas kesehatan mental, kebahagiaan, maupun gaya hidup konsumtif hingga mood yang mudah berubah. Berikut konten-konten yang bisa dijumpai di TikTok, YouTube, dan Instagram;





Terdapat ulasan menarik soal karakter generasi ini yang ditulils oleh David Stillman dan Johan Stillman dalam bukunya yang berjudul "Gen Z @ Work". Mereka menyebutkan bahwa walau memang karakter mereka menyukai hiper-kustomisasi dan memiliki banyak kekhawatiran soal ketinggalan informasi, namun mereka juga sangat kritis. Banyak warga yang merasa generasi Z terlalu bergantung pada teknologi, terutama media sosial karena dianggap membuat diri mereka minim interaksi sosial dan lebih suka mengisolasi diri. Sehingga seringkali dari mereka kurang paham betul soal attitude dan manner dasar dalam bersosial. Di sisi lain, kelekatan mereka pada teknologi menjadikan setiap individunya seorang tech-savvy yang mampu menaklukkan internet dengan sangat cepat. Terdapat banyak sekali kelebihan dan kekurangan yang patut dipertimbangkan untuk mengikuti irama mereka. Pertama-tama, berikut kekhawatiran yang disambatkan oleh masyarakat perihal karakter generasi ini;


1. Ketergantungan pada Teknologi

Seperti yang disebut pada paragraf sebelumnya, banyak keluhan yang menyatakan bahwa generasi ini terlalu bergantung pada teknologi, terutama media sosial. Ini dianggap mengurangi interaksi sosial secara langsung dan menyebabkan kecenderungan untuk mengisolasi diri. Hal ini dapat mempengaruhi perilaku mereka di kehidupan sosial, seperti manner dan basic attitude yang seringkali tidak dimiliki oleh generasi ini.
 

2. Sifat Narsis & Anti Kritik 

Generasi ini sering dikritik karena terlalu narsis di media sosial. Kebiasaan memposting foto diri secara berlebihan dan membagikan terlalu banyak informasi pribadi dinilai mengganggu dan tidak sehat secara sosial. Hal ini mempengaruhi kehidupan mereka di dunia nyata, menjadikan mereka pribadi yang anti kritik terhadap masukan orang lain.
 

3. Gaya Hidup Konsumtif

Hidup dengan gelimang akses internet membuat para penggunanya dengan mudah menjumpai iklan-iklan perbelanjaan yang sangat menarik. Iklan-iklan yang merupakan strategi marketing untuk menggaet pengguna internet hingga menyelesaikan pembelian itu tanpa sadar membuat para penggunanya sering belanja dengan tujuan menuruti keinginan ketimbang kebutuhan. Mereka cenderung membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, didorong oleh tren dan keinginan untuk menunjukkan status sosial di media sosial​. Dan generasi kelahiran di bawah 1996 inilah yang merupakan penyumbang gaya hidup konsumtif terbanyak.
 

4. Kesehatan Mental

Kekhawatiran terhadap kesehatan mental generasi ini juga sering diserukan. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di media sosial, ditambah dengan berbagai tuntutan sosial serta akademis, membuat banyak dari mereka rentan terhadap stres dan depresi​. Generasi ini lahir di era yang serba ada, mudah, nyaman, dan telah merdeka dari konflik peperangan dan peliknya perang ideologi pada masa lalu. Sehingga pada era ini, jalannya kehidupan kini berfokus pada hidup per individunya dibanding kelompok. Hidup tanpa melalui konflik yang keras, menjadikan generasi ini memiliki banyak waktu luang dalam menemukan jalan hidup dan identitas mereka.  Karena itulah ada yang namanya hiper-kostumisasi, kata David Stillman dan Johan Stillman dalam bukunya.
 

5. Kurang Konsisten dan Mudah Mutung

Dalam dunia pekerjaan, generasi ini sering disebut mudah bosan dan softie. Tidak tahan terhadap kritikan itu tadi, membuat mereka mudah terluka perasaannya.  Perasaan yang mudah terluka tersebut menmpengaruhi kinerja mereka yang menjadi lamban dan kurang semangat. Sehingga dalam dunia pekerjaan mereka kerap kali menjadi kutu loncat yang suka berpindah tempat kerja. 

 


Itulah rangkuman 5 kekurangan karakter yang paling menonjol dari generasi ini. Keluhan-keluhan terhadap kekurangan generasi tersebut banyak sekali diulas dan diunggah ke internet. Selain dalam bentuk konten media sosial, banyak pula artikel panjang lebar yang mengupas hingga ke akar-akar soal  betapa "lunaknya" generasi tersebut. Hal itu mengundang persepsi masyarakat soal generasi ini hingga berujung pada labelisasi yang buruk. Padahal, dari masa ke masa kekhawatiran ini merupakan hal yang sangatlah wajar terjadi. Kekhawatiran soal suatu generasi yang akan mewariskan masa depan bangsa ini pasti terjadi. Hanya saja, perlu diketahui bagaimana kita bertindak dan menanggapi fenomena yang terjadi supaya dunia tetap berjalan sesuai dengan perkembangan zaman yang pastinya berbeda dari waktu ke waktu.

 

Contohnya pada masa Orde Baru yang dimulai pada tahun 1966 setelah penggulingan Soekarno beserta Partai Komunis Indonesia. Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto tersebut diiringi oleh globalisasi yang ditandai oleh kemunculan budaya populer dengan gaya yang nyentrik. Fenomena keluh-kesah masyarakat ini bisa dibuktikan melalui artikel-artikel Kompas. Salah satunya berjudul "Anak Muda Mencemaskan?" pada 17 Desember 1969 yang membahas tentang rasa khawatir para orang tua. Selain artikel tersebut, ada tulisan dari majalah Ekspres, 25 Januari 1971 yang berbunyi:

"Generasi muda kita -kata sementara ahli-ahli psikologi dan pendidik jang mengamati-amati mereka-kini dalam antjaman. Harapan-harapan jang ditumpahkan kepada generasi ini nampaknja mulai pudar. Mereka jang selama ini diharapkan dapat mendjadi generasi penjambung jang tua dan mendjadi tenaga-tenaga pembangun bangsa, semakin mengchawatirkan. Njatanja, mereka lebih se nang hidup mandja dan menghisap gandja. Lebih menjukai hidup berangan-angan dibawah kepulan asap hashid, Jang sengit membiru. Terbang diantara lamunan-laamunan keindahan dan berada diantara awan, bulan-bulan dan bintang... djauh tinggi sekali. Dan sedjauh itulah pulalah uluran tangan kepada generasi ini ditanggapinja?"

Ada banyak sekali perang wacana pada masa itu yang mempersoalkan kekhawatiran generasi tua akan penerus bangsa yang terlalu kebarat-baratan. Parahnya, fenomena ini sampai memunculkan gerakan-gerakan pemerintahan seperti Bakorpeagon, yaitu Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong. Rambut gondrong dianggap sebagai bagian dari budaya populer yang kebaratan dan pengikutnya pasti suka berulah serta menimbulkan keributan di kota (Achdian, 2010:112). Padahal bukan itulah masalah utamanya. Namun generasi tua terus mempersoalkan kehidupan remaja pada masa itu yang dianggap tidak bisa diandalkan dan terlalu suka budaya populer.

Tak berhenti disitu, pada saat jatuhnya Soeharto dari masa kepemimpinannya, timbul fenomena yang lain dan masih dikeluhkan oleh generasi yang pada masa itu sudah memimpin yang tak lain ialah generasi yang sebelumnya dikeluhkan oleh generasi sebelumnya pula. Pada masa Reformasi tahun 1998, pasar bebas dan gelombang kapitalisme yang sebelumnya dibatasi perlahan masuk dan disitulah konsumerisme mulai meningkat. Selain itu, jatuhnya rezim Orde Baru membuat banyak remaja yang mengalami kebingungan identitas. Mereka terpapar oleh berbagai nilai baru yang datang bersamaan dengan keterbukaan dan globalisasi. Hal ini kerap kali memunculkan konflik antara generasi muda dan generasi tua yang masih terikat pada nilai-nilai konservatif masa Orde Baru​.

Dari kedua era pemerintahan dan generasi yang mengisinya tersebut, bisa dipahami bahwa terdapat masing-masing problemanya. Keluhan dan kekhawatiran terus berjalan dan beriringan dengan perubahan yang terjadi. Perlu diingat pula bahwa yang bisa dilakukan oleh masyarakat selaku rakyat yang hidup di dalamnya bahwa keluhan juga harus disertai dengan solusi. Kritik atau masukan harus seimbang dengan aksi nyata demi kemajuan bangsa.


Terlepas dari kekacauan pada pada era kini yang dipimpin oleh Milenial dan Gen Z, ada banyak sekali karakter dari generasi kelahiran 1996 ke bawah ini yang bisa dipertimbangkan untuk tetap berjalan beriringan. Yakni;

1. Tech Savvy Tiada Tara 

Generasi ini lahir dan tumbuh di era digital yang telah berkembang dengan sempurna. Sehingga mereka sangat mahir dalam menggunakan teknologi seperti komputer dan ponsel pintar. Mereka sangat terbiasa dengan internet, media sosial, dan berbagai perangkat digital sejak kecil, membuat mereka sangat adaptif terhadap perkembangan teknologi baru. Meskipun media sosial sering dikritik, mereka mampu memanfaatkannya untuk hal-hal positif seperti membangun komunitas dan bekerja kolaborasi, menyebarkan informasi penting, dan memulai gerakan sosial. Mereka menggunakan media sosial sebagai platform untuk mengekspresikan diri dan mempengaruhi perubahan disertai dengan cara berpikir yang kritis.

2. Teramat Kritis: Kesadaran Sosial dan Lingkungan

Mudahnya mengakses informasi lewat internet membuat generasi ini cenderung lebih peduli terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Mereka sering terlibat dalam gerakan sosial dan menunjukkan kepedulian tinggi terhadap perubahan iklim, kesetaraan gender, dan keadilan sosial. Kesadaran ini mendorong mereka menjadi lebih picky dan waspada dalam memilih produk atau layanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab secara sosial maupun lingkungan. Sehingga dalam berbagai kasus, mereka banyak bertanya apa, mengapa, dan bagaimana dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

3. Kreatifitas dan Inovasi

Generasi ini dikenal memiliki kreativitas tinggi. Mereka sering mencari cara-cara baru untuk menyelesaikan masalah dan menciptakan peluang melalui berbagai platform online. Banyak di antara mereka yang menjadi wirausahawan muda dan influencer yang menciptakan konten inovatif. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman yang semakin kompleks, detail, dan rumit sehingga memaksa mereka untuk lebih kreatif. 

4. Keragaman dan Inklusi

Hebatnya, mereka sangat menghargai keragaman dan inklusi. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang lebih terbuka terhadap perbedaan ras, budaya, agama, atau perbedaan ideologi. Sehingga mereka cenderung lebih toleran dan menerima perbedaan.

5. Fleksibilitas dan Adaptabilitas

Fleksibilitas mereka sangat tinggi dalam berbagai situasi. Mereka cepat beradaptasi dengan perubahan lingkungan kerja yang dinamis dan berbagai tantangan baru yang muncul, termasuk situasi krisis seperti pandemi COVID-19.

  


Hal-hal positif dari karakter generasi tersebut seharusnya bisa dijadikan pertimbangan oleh berbagai pihak, termasuk masyarakat sendiri dan pemerintah. Pemerintah sebagai pihak yang berwenang seharusnya mampu berjalan beriringan dengan karakter para penerus bangsa yang berubah dari masa ke masa. Dan tiap perubahannya tentu memiliki keunikannya masing-masing yang bersifat eksploratif. Keluhan dan kekhawatiran tetap harus dijalankan dengan adanya solusi. Beberapa aturan pemerintah yang dapat dijumpai dan telah sejalan dengan karakter generasi era ini yaitu;



1. Dukungan untuk Start-Up dan Wirausaha Muda

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik  

Peraturan ini mempermudah proses perizinan untuk usaha melalui sistem Online Single Submission (OSS), yang sangat membantu generasi muda yang ingin memulai bisnis.


2. Kebijakan Pendidikan dan Pengembangan Keterampilan

Program Kartu Prakerja

Program ini menyediakan pelatihan dan bantuan biaya bagi pencari kerja, pekerja yang ingin meningkatkan keterampilan, dan pelaku usaha kecil yang terdampak COVID-19. Ini sangat relevan bagi Gen Z dan milenial yang mencari peningkatan keterampilan dan pendidikan berkelanjutan.


3. Kebijakan Kerja Fleksibel

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang direvisi dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Omnibus Law) 

Revisi ini mencakup aturan tentang kerja fleksibel dan pekerjaan jarak jauh, yang sangat relevan dengan preferensi kerja fleksibel dari generasi muda. 


Dengan begitu sebelum generasi selanjutnya muncul, ada baiknya kita semua mempersiapkan diri untuk lebih terbuka dan bersifat konstruktif.
Perkembangan zaman akan selalu muncul dengan masing-masing problemnya yang unik sehingga dibutuhkan resolusi yang unik pula. Dengan pendekatan yang seimbang antara kritik dan dukungan, masyarakat dapat membantu generasi ini dalam pengembangan potensi mereka secara maksimal dan berkontribusi positif bagi masa depan. Pemerintah dan lembaga terkait juga perlu terus menyesuaikan kebijakan dan program mereka untuk mendukung karakteristik unik dan kebutuhan generasi ini demi masa depan bangsa yang lebih cerah. 
Semoga kita semua mampu menjadi masyarakat yang lebih bijaksana dan kritis terhadap berbagai hal. 


Salam,
Lili