Keluhan Soal Masa Depan Bangsa Dari Generasi ke Generasi. Ikuti, atau Terus Protes?
-
Dalam dua tahun terakhir, semakin banyak dan mudah ditemui konten media sosial, artikel, maupun opini yang menyatakan keresahan soal karakter alot dan manja generasi Z yang tak lain merupakan kelahiran tahun 1996an - 2010an. Utamanya karakter generasi ini dalam dunia pekerjaan yang disebut-sebut "terlalu lunak" karena berbagai alasan seperti prioritas kesehatan mental, kebahagiaan, maupun gaya hidup konsumtif hingga mood yang mudah berubah. Berikut konten-konten yang bisa dijumpai di TikTok, YouTube, dan Instagram;
Terdapat ulasan menarik soal karakter generasi ini yang ditulils oleh David Stillman dan Johan Stillman dalam bukunya yang berjudul "Gen Z @ Work". Mereka menyebutkan bahwa walau memang karakter mereka menyukai hiper-kustomisasi dan memiliki banyak kekhawatiran soal ketinggalan informasi, namun mereka juga sangat kritis. Banyak warga yang merasa generasi Z terlalu bergantung pada teknologi, terutama media sosial karena dianggap membuat diri mereka minim interaksi sosial dan lebih suka mengisolasi diri. Sehingga seringkali dari mereka kurang paham betul soal attitude dan manner dasar dalam bersosial. Di sisi lain, kelekatan mereka pada teknologi menjadikan setiap individunya seorang tech-savvy yang mampu menaklukkan internet dengan sangat cepat. Terdapat banyak sekali kelebihan dan kekurangan yang patut dipertimbangkan untuk mengikuti irama mereka. Pertama-tama, berikut kekhawatiran yang disambatkan oleh masyarakat perihal karakter generasi ini;
1. Ketergantungan pada Teknologi
Seperti yang disebut pada paragraf sebelumnya, banyak keluhan yang menyatakan bahwa generasi ini terlalu bergantung pada teknologi, terutama media sosial. Ini dianggap mengurangi interaksi sosial secara langsung dan menyebabkan kecenderungan untuk mengisolasi diri. Hal ini dapat mempengaruhi perilaku mereka di kehidupan sosial, seperti manner dan basic attitude yang seringkali tidak dimiliki oleh generasi ini.2. Sifat Narsis & Anti Kritik
Generasi ini sering dikritik karena terlalu narsis di media sosial. Kebiasaan memposting foto diri secara berlebihan dan membagikan terlalu banyak informasi pribadi dinilai mengganggu dan tidak sehat secara sosial. Hal ini mempengaruhi kehidupan mereka di dunia nyata, menjadikan mereka pribadi yang anti kritik terhadap masukan orang lain.3. Gaya Hidup Konsumtif
Hidup dengan gelimang akses internet membuat para penggunanya dengan mudah menjumpai iklan-iklan perbelanjaan yang sangat menarik. Iklan-iklan yang merupakan strategi marketing untuk menggaet pengguna internet hingga menyelesaikan pembelian itu tanpa sadar membuat para penggunanya sering belanja dengan tujuan menuruti keinginan ketimbang kebutuhan. Mereka cenderung membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, didorong oleh tren dan keinginan untuk menunjukkan status sosial di media sosial. Dan generasi kelahiran di bawah 1996 inilah yang merupakan penyumbang gaya hidup konsumtif terbanyak.4. Kesehatan Mental
Kekhawatiran terhadap kesehatan mental generasi ini juga sering diserukan. Tekanan untuk selalu tampil sempurna di media sosial, ditambah dengan berbagai tuntutan sosial serta akademis, membuat banyak dari mereka rentan terhadap stres dan depresi. Generasi ini lahir di era yang serba ada, mudah, nyaman, dan telah merdeka dari konflik peperangan dan peliknya perang ideologi pada masa lalu. Sehingga pada era ini, jalannya kehidupan kini berfokus pada hidup per individunya dibanding kelompok. Hidup tanpa melalui konflik yang keras, menjadikan generasi ini memiliki banyak waktu luang dalam menemukan jalan hidup dan identitas mereka. Karena itulah ada yang namanya hiper-kostumisasi, kata David Stillman dan Johan Stillman dalam bukunya.5. Kurang Konsisten dan Mudah Mutung
Dalam dunia pekerjaan, generasi ini sering disebut mudah bosan dan softie. Tidak tahan terhadap kritikan itu tadi, membuat mereka mudah terluka perasaannya. Perasaan yang mudah terluka tersebut menmpengaruhi kinerja mereka yang menjadi lamban dan kurang semangat. Sehingga dalam dunia pekerjaan mereka kerap kali menjadi kutu loncat yang suka berpindah tempat kerja.
Itulah rangkuman 5 kekurangan karakter yang paling menonjol dari
generasi ini. Keluhan-keluhan terhadap kekurangan generasi tersebut banyak
sekali diulas dan diunggah ke internet. Selain dalam bentuk konten media
sosial, banyak pula artikel panjang lebar yang mengupas hingga ke akar-akar
soal betapa "lunaknya" generasi tersebut. Hal itu mengundang
persepsi masyarakat soal generasi ini hingga berujung pada labelisasi yang
buruk. Padahal, dari masa ke masa kekhawatiran ini merupakan hal yang sangatlah
wajar terjadi. Kekhawatiran soal suatu generasi yang akan mewariskan masa depan
bangsa ini pasti terjadi. Hanya saja, perlu diketahui bagaimana kita bertindak
dan menanggapi fenomena yang terjadi supaya dunia tetap berjalan sesuai dengan
perkembangan zaman yang pastinya berbeda dari waktu ke waktu.
Contohnya pada masa Orde Baru yang dimulai pada tahun 1966 setelah
penggulingan Soekarno beserta Partai Komunis Indonesia. Orde Baru yang dipimpin
oleh Soeharto tersebut diiringi oleh globalisasi yang ditandai oleh kemunculan
budaya populer dengan gaya yang nyentrik. Fenomena keluh-kesah masyarakat
ini bisa dibuktikan melalui artikel-artikel Kompas. Salah satunya berjudul
"Anak Muda Mencemaskan?" pada 17 Desember 1969 yang membahas
tentang rasa khawatir para orang tua. Selain artikel tersebut, ada tulisan
dari majalah Ekspres, 25 Januari 1971 yang berbunyi:
"Generasi muda kita -kata sementara ahli-ahli psikologi dan pendidik jang mengamati-amati mereka-kini dalam antjaman. Harapan-harapan jang ditumpahkan kepada generasi ini nampaknja mulai pudar. Mereka jang selama ini diharapkan dapat mendjadi generasi penjambung jang tua dan mendjadi tenaga-tenaga pembangun bangsa, semakin mengchawatirkan. Njatanja, mereka lebih se nang hidup mandja dan menghisap gandja. Lebih menjukai hidup berangan-angan dibawah kepulan asap hashid, Jang sengit membiru. Terbang diantara lamunan-laamunan keindahan dan berada diantara awan, bulan-bulan dan bintang... djauh tinggi sekali. Dan sedjauh itulah pulalah uluran tangan kepada generasi ini ditanggapinja?"
Ada banyak sekali perang wacana pada
masa itu yang mempersoalkan kekhawatiran generasi tua akan penerus bangsa yang
terlalu kebarat-baratan. Parahnya, fenomena ini sampai memunculkan
gerakan-gerakan pemerintahan seperti Bakorpeagon, yaitu Badan Koordinasi
Pemberantasan Rambut Gondrong. Rambut gondrong dianggap sebagai bagian dari
budaya populer yang kebaratan dan pengikutnya pasti suka berulah serta
menimbulkan keributan di kota (Achdian, 2010:112). Padahal bukan itulah masalah
utamanya. Namun generasi tua terus mempersoalkan kehidupan remaja pada masa itu
yang dianggap tidak bisa diandalkan dan terlalu suka budaya populer.
Tak berhenti disitu, pada saat jatuhnya
Soeharto dari masa kepemimpinannya, timbul fenomena yang lain dan masih
dikeluhkan oleh generasi yang pada masa itu sudah memimpin yang tak lain
ialah generasi yang sebelumnya dikeluhkan oleh generasi sebelumnya pula. Pada
masa Reformasi tahun 1998, pasar bebas dan gelombang kapitalisme yang
sebelumnya dibatasi perlahan masuk dan disitulah konsumerisme mulai meningkat.
Selain itu, jatuhnya rezim Orde Baru membuat banyak remaja yang mengalami
kebingungan identitas. Mereka terpapar oleh berbagai nilai baru yang datang
bersamaan dengan keterbukaan dan globalisasi. Hal ini kerap kali memunculkan
konflik antara generasi muda dan generasi tua yang masih terikat pada
nilai-nilai konservatif masa Orde Baru.
Dari kedua era pemerintahan dan
generasi yang mengisinya tersebut, bisa dipahami bahwa terdapat masing-masing
problemanya. Keluhan dan kekhawatiran terus berjalan dan beriringan dengan
perubahan yang terjadi. Perlu diingat pula bahwa yang bisa dilakukan oleh
masyarakat selaku rakyat yang hidup di dalamnya bahwa keluhan juga harus
disertai dengan solusi. Kritik atau masukan harus seimbang dengan aksi nyata
demi kemajuan bangsa.
Terlepas dari kekacauan pada pada era
kini yang dipimpin oleh Milenial dan Gen Z, ada banyak sekali karakter dari
generasi kelahiran 1996 ke bawah ini yang bisa dipertimbangkan untuk tetap berjalan beriringan. Yakni;
1. Tech Savvy Tiada Tara
Generasi ini lahir dan tumbuh di era digital yang telah berkembang dengan sempurna. Sehingga mereka sangat mahir dalam menggunakan teknologi seperti komputer dan ponsel pintar. Mereka sangat terbiasa dengan internet, media sosial, dan berbagai perangkat digital sejak kecil, membuat mereka sangat adaptif terhadap perkembangan teknologi baru. Meskipun media sosial sering dikritik, mereka mampu memanfaatkannya untuk hal-hal positif seperti membangun komunitas dan bekerja kolaborasi, menyebarkan informasi penting, dan memulai gerakan sosial. Mereka menggunakan media sosial sebagai platform untuk mengekspresikan diri dan mempengaruhi perubahan disertai dengan cara berpikir yang kritis.2. Teramat Kritis: Kesadaran Sosial dan Lingkungan
Mudahnya mengakses informasi lewat internet membuat generasi ini cenderung lebih peduli terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Mereka sering terlibat dalam gerakan sosial dan menunjukkan kepedulian tinggi terhadap perubahan iklim, kesetaraan gender, dan keadilan sosial. Kesadaran ini mendorong mereka menjadi lebih picky dan waspada dalam memilih produk atau layanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab secara sosial maupun lingkungan. Sehingga dalam berbagai kasus, mereka banyak bertanya apa, mengapa, dan bagaimana dibandingkan dengan generasi sebelumnya.3. Kreatifitas dan Inovasi
Generasi ini dikenal memiliki kreativitas tinggi. Mereka sering mencari cara-cara baru untuk menyelesaikan masalah dan menciptakan peluang melalui berbagai platform online. Banyak di antara mereka yang menjadi wirausahawan muda dan influencer yang menciptakan konten inovatif. Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman yang semakin kompleks, detail, dan rumit sehingga memaksa mereka untuk lebih kreatif.4. Keragaman dan Inklusi
Hebatnya, mereka sangat menghargai keragaman dan inklusi. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang lebih terbuka terhadap perbedaan ras, budaya, agama, atau perbedaan ideologi. Sehingga mereka cenderung lebih toleran dan menerima perbedaan.5. Fleksibilitas dan Adaptabilitas
Fleksibilitas mereka sangat tinggi dalam berbagai situasi. Mereka cepat beradaptasi dengan perubahan lingkungan kerja yang dinamis dan berbagai tantangan baru yang muncul, termasuk situasi krisis seperti pandemi COVID-19.
Hal-hal positif dari karakter generasi tersebut seharusnya bisa
dijadikan pertimbangan oleh berbagai pihak, termasuk masyarakat sendiri dan
pemerintah. Pemerintah sebagai pihak yang berwenang seharusnya mampu berjalan
beriringan dengan karakter para penerus bangsa yang berubah dari masa ke masa.
Dan tiap perubahannya tentu memiliki keunikannya masing-masing yang bersifat
eksploratif. Keluhan dan kekhawatiran tetap harus dijalankan dengan adanya
solusi. Beberapa aturan pemerintah yang dapat dijumpai dan telah sejalan dengan karakter
generasi era ini yaitu;
1. Dukungan untuk Start-Up dan Wirausaha Muda
Peraturan ini mempermudah proses perizinan untuk usaha melalui sistem Online Single Submission (OSS), yang sangat membantu generasi muda yang ingin memulai bisnis.
2. Kebijakan Pendidikan dan Pengembangan Keterampilan
Program ini menyediakan pelatihan dan bantuan biaya bagi pencari kerja, pekerja yang ingin meningkatkan keterampilan, dan pelaku usaha kecil yang terdampak COVID-19. Ini sangat relevan bagi Gen Z dan milenial yang mencari peningkatan keterampilan dan pendidikan berkelanjutan.
3. Kebijakan Kerja Fleksibel
Revisi ini mencakup aturan tentang kerja fleksibel dan pekerjaan
jarak jauh, yang sangat relevan dengan preferensi kerja fleksibel dari generasi
muda.
Dengan begitu sebelum generasi selanjutnya muncul, ada baiknya kita semua mempersiapkan diri untuk lebih terbuka dan bersifat konstruktif. Perkembangan zaman akan selalu muncul dengan masing-masing problemnya yang unik sehingga dibutuhkan resolusi yang unik pula. Dengan pendekatan yang seimbang antara kritik dan dukungan, masyarakat dapat membantu generasi ini dalam pengembangan potensi mereka secara maksimal dan berkontribusi positif bagi masa depan. Pemerintah dan lembaga terkait juga perlu terus menyesuaikan kebijakan dan program mereka untuk mendukung karakteristik unik dan kebutuhan generasi ini demi masa depan bangsa yang lebih cerah.