Saya Benci Tim PubDekDok!: Menata Ulang Praktik Penyelenggaraan Pameran Seni di Lingkup Kampus

Sabtu, 11 Januari 2025 by lele

Ilustrasi foto yang dibuat oleh ChatGPT (Untuk mempelajari bagaimana ai bekerja)
Di depan karya Agus "Tato" Suryanto, Lingga Bergema - Artsub 2024

Dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa seni rupa, saya mulai menyadari adanya pola-pola yang terus berulang ketika rekan-rekan menghadiri sebuah art event, terutama pameran seni rupa lokal di lingkup kampus. Mereka terlihat gembira, saling memberi pujian, bertukar basa-basi tentang proses kreatif masing-masing, serta mengabadikan momen di depan karya untuk kemudian diunggah ke Instagram dengan menyematkan nama sang seniman. Makanan ringan seperti keripik balado, jajan tai kucing, hingga makaroni pedas kerap disajikan bersama air mineral gelas, semua gratis. Fenomena ini bukan hal asing. Saya yakin hampir seluruh mahasiswa seni rupa pernah terlibat dalam atmosfer ini, entah sebagai penyelenggara, partisipan, maupun sekadar pengunjung. Semua tampak antusias dan larut dalam suasana yang saya sebut: pameran = reuni.

Saya berani menyatakan bahwa pameran seni rupa kampus merupakan ruang belajar paling konkret bagi mahasiswa seni. Nama-nama seperti Guyub Rupa dari UNNES, Pesta Seni dari UNM, UNKARUPA dan Sengkuni dari UNESA, hingga Rewind Art dari UNJ adalah bukti nyata eksistensi pameran lintas kampus yang mempertemukan jaringan kreatif. Momentum ini bukan sekadar ajang mempertontonkan karya, melainkan juga wahana pengikat relasi dan solidaritas antar mahasiswa seni rupa. Namun dalam euforia ini, saya tidak bisa menutup mata dari berbagai persoalan struktural yang terus berulang—khususnya dalam penyelenggaraan.

Salah satu tradisi yang menurut saya perlu dievaluasi secara serius adalah struktur tim kerja yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan zaman. Sebut saja divisi PubDekDok—singkatan dari publikasi, dekorasi, dan dokumentasi—yang masih digunakan oleh banyak kampus. Menurut saya, tiga fungsi ini terlalu jauh untuk digabungkan. Publikasi dan dokumentasi adalah elemen kunci dalam membangun komunikasi dengan audiens, sedangkan dekorasi lebih berkaitan dengan art handling yang secara teknis memiliki urgensi dan fungsi tersendiri. Oleh karena itu, saya mengusulkan pembentukan divisi yang lebih spesifik dan profesional, seperti Divisi Marketing yang terdiri atas tim desain, publikasi, dan dokumentasi; terpisah sepenuhnya dari tim art handling yang menangani display, unpacking, hingga assembling karya. Pembedaan ini bukan semata soal istilah, tetapi bentuk keseriusan dalam memahami proses kerja pameran seni rupa yang profesional dan efektif.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah pameran kampus harus terus dipertahankan sebagai tradisi? Bagi saya, jawabannya relatif. Tradisi tentu memiliki nilai, tetapi tidak selamanya relevan untuk dilestarikan secara mutlak. Ada kalanya berani berpikir di luar pakem bisa membuka kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih segar dan berdampak lebih luas. Art event yang dilakukan di luar lingkup kampus dengan pendekatan yang lebih inklusif justru bisa memperluas jejaring dan meningkatkan eksistensi pelaku seni muda.

Saya pribadi menyayangkan dihapuskannya mata kuliah publikasi karya dari kurikulum pada era saya itu. Padahal, inilah momen belajar paling riil di kelas formal untuk mengasah pemahaman tentang proses penyelenggaraan pameran secara sistematis. Pengetahuan tentang mekanisme pasar seni, praktik kuratorial, hingga komunikasi strategis dalam penyelenggaraan pameran tidak bisa hanya diperoleh lewat praktik coba-coba. Jika penyelenggaraan pameran tetap dibiarkan menjadi ajang trial and error, bagaimana kita bisa membentuk mahasiswa yang siap bersaing di medan seni yang semakin kompleks?

Tulisan ini saya susun sebagai bentuk kegelisahan sekaligus harapan. Bahwa penyelenggaraan pameran seni rupa, meskipun berada dalam lingkup kampus, seharusnya tidak dikelola secara asal-asalan. Tradisi memang bisa menjadi pijakan, tetapi perkembangan zaman menuntut efektifitas, profesionalitas, dan daya kritis yang tinggi. Saya membuka lebar kritik dan saran atas gagasan ini—sekeras apapun itu—karena hanya dengan diuji dan digempur, kita bisa tahu seberapa kokoh posisi kita berdiri di dunia seni rupa.


Tulisan ini merupakan rewrite dari tulisan lama saya yang ditulis penuh emosi dan sangat tidak profesional. Bisa dibaca di sini.

Tags opinion story