Ternyata Komik Lipat yang Dulu Aku Bikin Itu Adalah "Zine"

Jumat, 03 Oktober 2025 by lele
Pusing Matematika, Dok. 2018
Dulu yang kupahami, zine memang lahir sebagai perpanjangan tangan skena musik punk, hardcore, atau metal karena di sanalah kebutuhan akan media alternatif paling mendesak: promosi gigs dan band. Selain itu, lewat pertukaran promosi dan wacana tersebut  aku melihat etos dalam kegiatan zine tersebut: mandiri, murah, dan bebas.

Di konteks sekarang ketika siapa pun bisa membuat zine tanpa harus berada di skena musik itu tadi, zine telah berubah menjadi medium suara yang personal dan bisa juga kolektif. Fokusnya bergeser dari “scene-based” ke “issue-based”. Yang disorot bukan lagi band atau genre, tapi posisi sikap: soal tubuh, ingatan, kota, konflik, literasi, identitas, sampai keresahan sehari-hari. Tulisan dan visual jadi alat utama untuk bersuara, bukan sekadar pelengkap. Dan kupikir yang unik ialah di era ketika media sosial yang secepat ini, algoritmik, dan sering menuntut performativitas, zine justru menawarkan kebalikan. Proses lambat, intim, dan tidak harus viral.

Jika kita menggunakan perbandingan kota-kota seperti Bandung, Jakarta, atau Jogja memang lebih cepat karena infrastrukturnya sudah lama terbentuk: kampus seni, ruang alternatif, toko arsip, sampai ekosistem diskusi yang rutin. Zine di kota-kota itu sering bergerak cepat, ramai, dan saling menyambung secara nasional. Di kota-kota yang arusnya sudah mapan tersebut, kebutuhan ruang perlahan bergeser bentuk. Ruang alternatif yang dulu langka sekarang sudah lebih banyak. Ada galeri, festival, diskusi rutin, residensi, bahkan dukungan institusional. Zine masih berangkat dari kebutuhan bersuara, tapi kadang juga berfungsi sebagai penanda jejaring, arsip praktik, atau bagian dari ekosistem kreatif yang sudah stabil.  Bukan berarti zine di sana telah “kehilangan makna”, tapi urgensinya telah berubah. Ia sudah tidak muncul dari kekosongan ruang, melainkan dari keinginan memperluas wacana yang sudah ada.

Sementara di kota seperti Surabaya, kebutuhan ruang itu sering masih bersifat primer. Zine hadir bukan sebagai lapisan tambahan, tapi sebagai ruang itu sendiri. Ketika akses ke ruang diskusi atau publikasi masih terbatas, zine menjadi cara paling mungkin untuk hadir, terdengar, dan utamanya saling menemukan. Yang kuamati, Surabaya bukan tertinggal tapi berjalan dengan ritmenya sendiri. Zine di sini tumbuh sebagai praktik mandiri yang pelan tapi konsisten lebih ke membangun ekosistem jangka panjang daripada sekadar mengikuti gelombang.

Menurutku zine hari ini tidak kehilangan konteks utamanya, tapi memperluas medan. Penting pula untuk diketahui bahwa zine memang berakar dari skena musik, tapi tidak wajib punya relasi ke sana. Yang perlu ditekankan dari warisan tersebut ialah kemandirian dan keberanian bersuara, bukan identitas punk, hardcore, atau underground. Zine sekarang bukan soal “kamu dari mana”, tapi “kamu ingin bicara apa”. Ia tidak lagi eksklusif milik skena musik namun terbuka untuk siapa pun yang ingin berbicara dengan cara jujur.

Dan masih banyak orang takut karena merasa “belum pantas”, termasuk diriku sendiri. Padahal yang kuamati, nyatanya zine tidak menuntut kualitas tertentu. Ia lahir dari kebutuhan, bukan kurasi. Dengan menegaskan ini, zine bisa menjadi medium yang membumi untuk siapapun, bukan eksklusif.

Yang kusadari sekali lagi sebagai penulis yang tidak aktif-aktif amat: Ternyata komik lipat dan majalah promosi produk susu yang aku buat menggunakan kertas buram dulu di usia 13 tahun itu adalah kegiatan zine!


Tags opinion