Republik Kepala-Kepala Kecil

Kamis, 11 September 2025 by lele

An Alternate History


Republik Kepala Kecil

Surabaya, 2025.


Di tengah krisis kepercayaan yang semakin parah, sebuah “revolusi baru” meletus. Rakyat berkumpul di Lapangan Banteng, bukan untuk demonstrasi biasa, tapi untuk sebuah ritual baru: penyusutan kepala para penguasa.

Di bawah sorak-sorai, wajah-wajah yang selama ini hanya terlihat di layar televisi akhirnya turun ke jalan. Kepala-kepala itu dipisahkan dari kursi empuknya, lalu dikecilkan hingga muat digantung di spion motor Astrea butut atau bahkan stang sepeda onthel reyot satpam perumahan. Di hari pertama, kepala-kepala kecil itu digantung di Grahadi, berjajar seperti lampion merah di Kya-Kya.

Kepala yang dikecilkan menjadi mata uang baru.
Kepala seorang menteri bisa ditukar dengan seribu liter beras.
Kepala seorang oligark bisa menebus harga rumah subsidi untuk satu keluarga. 
Di pinggir jalan, pedagang kaki lima menjual replika kepala kecil dari kayu batok kelapa menjadi gantungan kunci berukir “cinderamata revolusi.”

Televisi menayangkan pawai kepala kecil. Rakyat berbaris sambil mengangkat tinggi-tinggi kepala yang mereka dapat, seperti trofi. Semakin banyak kepala yang dikumpulkan, semakin tinggi status sosialmu.

Namun, seperti setiap revolusi, rasa lapar kepala ini tak pernah kenyang. Setelah menteri, giliran pejabat daerah, lalu direksi BUMN, lalu influencer yang berbahagia menjilat penguasa untuk kuasa.

Di Surabaya, rakyat membangun Taman Kepala Kecil di Tambak Bayan, tepat di atas tanah sengketa.
Di Makassar, kepala kecil dipajang di tugu kota, menjadi hiasan malam tahun baru. 
Di media sosial, tren #KepalaKecilChallenge viral, di mana orang memajang foto kepala yang mereka “klaim.”

Lama-lama, rakyat mulai mengerutkan kepala-kepala fiktif: wajah kartun, meme, bahkan kepala presiden yang sudah turun kursi. Revolusi tampak kehilangan batas, dan setiap kepala yang menyusut justru membuat rasa marah bertambah karena ternyata kehilangan itu tidak otomatis menghadirkan keadilan.

Pada akhirnya, kota-kota Indonesia penuh dengan kepala kecil yang digantung di tiang listrik, warung kopi, dashboard mobil, spion angkot. Mereka tidak lagi menakutkan, mereka menjadi hiasan, bagian dari lanskap sehari-hari.

Dan di situlah paradoksnya: revolusi berhasil, tetapi kepala yang menyusut juga menyusutkan ingatan. Orang-orang telah lupa kenapa kepala itu dipajang. Mereka kembali bekerja, kembali bayar pajak, pusing karena cabe mahal, kembali percaya pada janji baru yang semanis biskuit bayi subsidi program pemerintah.

Seorang anak kecil bertanya pada ibunya, 

“Kenapa kita punya banyak kepala kecil di rumah?”

Sang ibu tersenyum,

“Supaya kita ingat.”

Tapi di matanya ada keraguan:

ingat apa? dendamnya? atau harapannya yang dulu pernah hidup?



Tags opinion story